Rabu, 10 Oktober 2018

Aku, Hujan dan Dia.


Aku, Hujan dan Dia.
Oleh: Glint Lintjewas
Saat hujan, orang-orang selalu menanti pelangi indah saat hujan berhenti. Aku  bukan orang-orang itu. Saat hujan yang aku nantikan, ya itu. Hujan… Hujan dan dia.
“Sedia payung sebelum hujan.” Adalah frasa yang paling tidak digunakan para penanti pelangi. Karena ‘sebelum hujan’nya itu sangat sulit diketahui, yang sangat sulit diderminasi. Sebelum hujan adalah jarak waktu antara hujan sebelumnya dan hujan selanjutnya, dan entah berapa lama jarak waktu sebelum hujan itu. Jadi solusi terbaikku adalah selalu membawa payung di waktu manapun. Seperti Nuh yang membuat batrah tanpa tahu kapan air bah nya akan datang.
Dan harus dua. Maksudku payung yang aku bawah harus dua. Bagi yang merasa kalau ini aneh, okey mari dengar penjelasan kliseku. Beginilah itu bermulai. Sejauh yang aku ingat, aku seorang siswa SMA kelas dua, hidup sebagaimana siswa SMA seharusnya, tapi bukan aku yang menilai aku, orang-orang sekitarku, mereka bilang sih begitu. Aku nggak mungkin bertanya ke mereka “Apa aku normal?” Karena dengan begitu aku secara instan menjelma menjadi alien dari planet  normalkahaku  yang seharusnya bergaul dengan maskot kental manis yang jangan disebut lagi susu, Karena itu standar normal baru.
Sebagaimana aku bilang aku normal, itu secara instan membuat aku menjadi salah satu penanti pelangi, dulunya. Yang  mana aku tidak pernah membawa payung sebelum hujan. Dan tentu saja membenci hujan,  ketika dia menyombongkan kemampuannya secara tiba-tiba saat aku tengah berjalan santai.  Lari cepatku adalah seperti kemampuan harian yang hanya dipakai sekali sehari, dan tadi pagi aku terlambat bangun. Aku hanya berjalan santai dan bertepi ke sebuah pondok kecil, hanya aku yang disana.
 Padahal hujan adalah salah satu music terbaik  untuk mengantar tidur, tapi aku memilih untuk mendengar lagu sendu lain untuk menemaniku. Aku membuat dunia music saling melawan. Hujan, music alami dan Mondo Grosso, music electric modern yang bertujuan sama. Entah  mereka beradu atau berpadu. Hujan x Mondo Grosso.  
Ehm… Dan ini bagian terbaiknya.
Tak ada yang bisa menjawab bagaimana cinta bisa bermula, bagaimana rasa itu bisa timbul. Jika kau tanya aku, aku juga tak bisa. Tapi… setidaknya aku punya jawaban untukku sendiri, Hujan dan dia.
Seperti muncul dari horizon, dewi negeri dongeng. Negeri dimana dewinya berjalan perlahan memeluk tas anak SMA. dia muncul begitu saja seperti diciptakan oleh otoritas hujan itu sendiri. Dia bahkan berjalan jauh lebih santai dari aku, tidak angkuh, tanpa kebohongan, tanpa peduli, hanya ingin menegaskan kedewiannya. Dia tak salah. Hujan yang membawahnya dan biarkan dia bergerak bersamannya.
Saat posisi kami linier, dia berpaling menghadapku. Aku terdiam, selayaknya seorang makhluk yang menatap dewinya, tak bisa berbuat apa-apa.  Sedetik kemudian matanya berbicara kepadaku dengan tatapan yang berarti: ‘kau punya payung?’. Hanya terkagum yang bisa mataku balas sampai akhirnya waktu bertatap kita selesai dan waktu terbaikku sepanjang hidup selama 16 tahun yang bisa kuingat, berakhir. Terganti dengan suara hujan yang entah kenapa seperti keheningan kedap suara. Aku terjebak dalam ruangan tanpa bentuk kedap suara yang hanya ada aku dan penyesalan, bertiga  dengan tulisan besar “KENAPA!? Kau tidak membawah payung?”  yang menatap kami berganti-gantian.
Hanya ada dua masa, sebelum dia dan sesudah dia. Dia itu terang, dan sebelum dia itu kelam. Hanya dengan menatapnya, aku paham kenapa Tuhan pertama menciptakan terang.
Pertemuan itu mengubahku. Pertemuan itu membuat aku mempunyai tujuan hidup, bukan untuk menyelamatkan dunia dari serangan monster besar, tapi memayungi dia saat hujan datang. Jadi aku putuskan membawah dua payung kemanapun. Harus dua, karena aku anak laki-laki 16 tahun yang nggak mungkin sepayung berdua dengan dia, belum mampu dan tahu diri. Itu lah jawaban untuk kenapa? Klise, kan?
            Aku menjadi alien. Selalu ada momen tertentu dalam hidup manusia yang mengubah mereka, bisa itu lolos dari bencana, menang lotre, pengalaman hampir meninggal dan aku… Ini. Membuatku bermetamorfosis menjadi aku yang lain.
Aku ingin menyimpan semua hal yang ada kedalam lemari dan menyisahkan aku dan payung ini. Ini misi baruku dalam permainan yang disebut hidup, dan tak ada yang ingin misinya gagal. Jadi aku serius untuk misi ini. Misi  menyelamatkan dewi hujan dari hujan, sebuah misi yang paradox.  Aku berubah, bahkan cara bicaraku pun sedikit berbeda, seperti itu yang pertama berubah saat ingin hidup ‘baru’,  semacam,  “aku tidak mau mendengar suaraku lagi.” bagi sebagian pelaku criminal.
Bukan hanya aku yang menyadari perubahan ku, memang terlalu jelas. Seorang yang pada hakikat dasarnya tidak terlalu mencolok di kelas, kini mencolok karena ketidak mencolokannya. Semua memperhatikan aku yang tidak focus dengan sekitar, terlalu focus terhadap apa yang aku anggap lebih penting mungkin. Aku mempunyai perkumpulan diantara teman-teman kelas. Biasalah kebiasaan anak sekolah yang ingin memiliki perkumpulan. Di kelas ada perkumpulan yang menyukai K-pop, J-pop, anime, acara alay, FTV Indonesia, macam-macam. Dan aku tergabung dalam perkumpulan yang tidak menyukai apa yang perkumpulan lain lakukan. Kami ada lima orang. Kerjaan kami hanya duduk berdekatan dan tak mengurus urusan masing-masing. Entah sejak kapan kami menjadi perkumpulan setahuku kami tak pernah rapat perkumpulan untuk membahas itu. Kami memang tidak pernah membahas apa-apa. Sekarang itu tidak penting karena bahkan perkumpulan ku tidak ingin berkumpul dengan ku, aku sekarang anggota  dari perkumpulan yang tak punya perkumpulan, jumlah anggota: 1. Aku. Hari lahir perkumpulan: tepat saat aku membawah dua payung dan menjadi pendiam di sudut ruangan.
Ada banyak rumor yang bersebar menganai aku, ada yang bilang aku kesambet, aku jadi mucikari, diperkosa oleh om-om, atau ada yang bilang aku telah menjual jiwa ku ke iblis, huhhh…  terdengar keren. Aku semacam legenda masyarakat yang hidup di kelas ku. Panggil aku Ridaman kalau perlu…  Maksa.
Aku menaruh payungku di sudut belakang kelas. Itulah mulanya mereka mulai mencurigai keanehan ku, diikuti dengan kebisuanku untuk menjawab pertanyaan untuk apa payung itu. Aku memang tidak pernah peduli pendapat orang lain mengenai aku.  Sampai suatu saat setelah pulang sekolah aku mengambil payungku, dan berjalan keluar dari sekolah. Hujan pun datang, ku buka payungku dan berjalan santai, sampai aku sadar kalau aku hanya membawah satu payung.
Di sekolah tidak ada. Di seluruh sekolah tidak ada. Hilang. Aku mencurigai semoua orang, sampai satpam yang menjaga sekolah yang baru masuk kemarin kumasukan dalam daftar yang ku benci. Tanpa alasan pasti. Cuma pengaruh labil yang kesal.  Aku berakhir di tempat duduk di pondok yang sama saat pertama aku melihatnya, walaupun matahari tidak terlihat, aku sadar ini sudah sangat sore.  Dia pasti sudah lewat. Salah satu alsan lagi untuk kesal.
Aku duduk berteman dengan diriku sendiri untuk waktu yang lama. Hujan rintik itu bernada. Nada mengejek terbaik yang mampu di arasemen oleh hujan.
Bukannya aku ingin hidup sendiri dan terdengar menyedihkan, tapi bukankah dunia memberikan kita sedikit pilihan, dan duduk menatapi hujan adalah salah satu yang terbaik diantara. Aku menatapinya lama. Entah apa itu.
Kenapa hujan terdengar sangat menyedihkan dan melankolik?  Hujan memutuskan hubungan kita dengan dunia, kita tidak sebebas biasanya.  Saat sedih banyak orang mandi di shower. Dan saat hujan, kesedihan itu seperti dibagi ke seluruh dunia. Kesedihan skala besar.
Malam itu juga aku memulai kegiatan baruku, menjahit. Tujuanku sederhana, agar payung yang ku bawah selalu berada di dekatku. Di samping tasku dan tas yang aku pakai hanya mempunyai satu tempat untuk payung. Jadi, solusinya adalah aku menjahit yang satunya lagi.  Sayangnya aku tidak tahu menjahit. Bahkan aku tidak lulus tes dasarnya, memasukan benang dalam jarum. ahhhh… susahnya itu. Mungkin lebih mudah memasukan unta ke lubang jarum dari pada memasukan benang ke lubang jarum. Di dunia modern ini apakah belum ada ya orang yang menciptakan alat untuk memasukan  benang dengan mudah? Kita sudah banyak  kali pulang pergi Mars loh.
Kakakku pun tertawa geli melihatku frustasi. Tipikal kakak yang tak bisa diandalkan, perempuan yang melihat kesenangan yang luar biasa di tengah kesengsaraan dasyat makhluk sedarahnya, kalau saja dia bukan satu-satu keluargaku yang tersisa, mungkin dia akan aku tukar mesin pemasuk benang dalam jarum, kalau ada.
Kakakku ini adalah orang yang pintar, itu bukan pujian, aku tak ingin memujinya, nggak akan. Tapi tak ada orang yang ku kenal  lebih pintar dari dia. Dia mengerti banyak hal yang sangat remeh. Contohnya dia pernah memberikan penjelasan panjang lebar, lengkap dengan nama-nama orang dan tahun mengenai konsep sosialisme hanya karena aku bertanya kenapa uang jajanku berkurang? Aneh, kan. Tapi  dia juga mampu berhitung dengan sangat cepat. Sangat cepat. Mungkin karena itu dia langsung jadi anilis andalan hanya dalam waktu kurang dari 1 minggu bekerja. Tapi di tengah ke pintarannya, dia sesekali membuat keputusan bodoh, misalnya sekali menjadi pacar seorang laki-laki brengsek, tiga kali membeli produk pemutih abal-abal, berhenti dari pekerjaan kantor  dimana dia menjadi analis terkemuka untuk menjadi relewan. Ehhhhh… sorry untuk yang terakhir bukan keputusan bodoh kayaknya, itu keren.
Matanya itu walaupun dia masih  20an tapi seperti mata seorang peramal, dengan menatap pupilnya saja, dia seperti mendownload isi kepalamu. Lebih baik dia bersaing dengan Sherlock Holmes deh, dari pada menjadi kakakku.
“Sudah cukup, nah begini…” ungkap kakakku akhirnya paham kegundahan adiknya, atau dengan kata yang lebih halus, sudah puas menertawai aku.
Dia tidak pernah langsung mengerjakannya tapi selalu memberikan contoh agar aku yang mengerjakan. Memang dia tahu banyak hal, menjahit pun tak luput dari pengetahuaannya. Aku yang dungu dalam menjahit setelah dilatihnya menjadi naik level jauh, aku seperti merasa mampu menjahit jas pernikahanku sendiri.
“Kau butuh uang tambahannya tidak?”apa lagi yang sudah diketahuinya. Kakakku menatap tas ku dan payung.
“Tidak, untuk apa?” ya, aku butuh uang tambahan, aku ingin membeli payung baru, dan sepertinya dia tahu itu, dan dia juga tahu kalau aku berbohong. Dasar wanita penyihir pembaca pikiran. Tapi aku tidak ingin membebaninya, dia sepertinya kesulihat uang akhir-akhir ini.
“Ya sudah, bisa diteruskan sendirikan? mau instirahat.”
“Nggak makan dulu?”
“Apa…? Minyak garam?  Kakak sudah makan kok tadi, kamu sudah?”
“Sudah.”
“Hei, kalau uang makan mu kurang, jangan sungkan bilang ke kakak, ya?”
“Iya, sudah-sudah kakak istirahat sana, ganggu aja. Menjahit itu perlu ektra konsentrasi, ”
“huuuuh… the artist is on progress”
Butuh waktu sampai pukul 12 lewat hingga aku menyelesaikan karya pertamaku, jahitan tangan yang sangat aku banggakan. Di sudutnya aku membuat inisial namaku. R.D bentuk narsisme semua seniman.  Baik melihat sebuah magnum opus aku bangga dengan karyaku ini. Aku punyi cita-cita baru kayaknya. Menjahit.           
Toko serda atau kepanjangan dari serba ada, adalah toko kecil yang menjadi tempat langgananku untuk membeli berbagai macam hal mulai dari makananku setiap hari sampai peralatan-peralatan sekolah sampai payungku adalah benda yang dulunya dijual di toko ini. Aku pelanggan setia, hampir setiap hari aku membeli makanan disini, penjaga tokonya pun sudah kenal gerak-gerikku. Langganan. Langsung saja ibu Sanny mengambil bungkus nasi kuning, dia bertindak begitu normal hari ini. Tapi tidak hari ini. Aku bukan aku yang kemarin dan kemarin dulu. Jelas aku langsung menggeleng. Ibu sanny binggung dengan gesture ku yang berbeda, mencoba membaca enigma dari pergerakanku, ibu Sanny menyerah.
“Kenapa, dek Ri? Nggak makan?”
Aku hanya menggeleng. membalas
“nggak punya uang?”
Aku mengeluarkan uang jajanku, uang jajan yang ditinggalkan kakak tadi pagi, katanya saat aku masih tidur,  karena pengaruh masih ngantuk, yang jelas ku dengar hanya aku harus cepat bangun, kakak mau pergi ke tempat bencana di mana gitu, mungkin berapa lama nggak terdengar jelas dan uang makan dan jajan ada di meja. Dibagian uang jajan sih aku sudah bangun, telingaku berfungsi penuh. Kira-kira seperti itu.
Dan nominal uang jajanku ini, lumayan. Aku tiba-tiba merasa kaya. Mungkin aku kemarin laki-laki nasi kuning tapi hari ini aku laki-laki ayam lalapan. Naik derajat lah sekali-kali, dengan bangga aku melahap lalapan dan dengan tenang aku minta tambah. Enak juga makan dua lalapan di pagi hari. Kapan terakhir aku makan seperti ini? Tidak pernah.
Wajah senyum-senyum a la pemilik tambang emas aku pasang menatap ibu sanny yang binggung harus menyikapi ku seperti apa.
“Berepa semuanya?” Behhh… dialog sombong yang aku latih tadi pagi didepan kaca.
            “42 ribu dek.” 
Aku mengeluarkan 50ribu langsung. Dan bersiap untuk mengatakan dialog sombong lainnya yang sudah aku katam sejak latihan terakhir tadi di jalan.
            “Simpan kembaliannya.”Behhh…
Aku berjalan berusaha berlalu agar scene ini terlihat sangar tapi aku lupa satu hal, aku harus membeli payung baru. Dan harus biru. Kenapa? Ya karena akan sesuai dengan tas yang dipeluknya waktu itu.
Aku menunjuk kearah payung biru navy, di dalam pelastik yang digantung.
“Ambilkan yang itu, bu”
“Itu yang paling mahal dek, ini ada yang 20 ribuan kalo itu mah 70 ribu dek.”
“Apa aku terlihat kaget dengan harganya.”uhh… kalimat sombong lainnya yang entah dari mana aku mengutipnya mungkin buku database kalimat sombong edisi 2, yang membuat aku merasa bersalah mengatakannya dan instan minta maaf ke bu Sanny.  Namun tetap membeli payung tersebut, dengan uang kembalian yang aku ambil.
Saat aku baru saja keluar dari toko serda, pesan dari kakak membuatku ingin mengulang waktu. Jangan boros dengan uangnnya ya itu jatah seminggu mu. Aku instan berpikir, berapa hari ya aku harus puasa makan siang?
Aku siap untuk dia. Payung sudah dua, tempat payung sudah ada bahkan aku sudah kembali bercerita dengan teman-teman sekelasku. Yang menyelesaikan  konflikku dengan mereka hanya tiga huruf: “hai!” dan aku kembali menjadi diriku yang dulu. Berteman dengan semua orang, bukan  lagi alien, tapi eks-alien. Seperti aku yang tidak peduli siapa yang mengambil payungku tempo hari, mereka pun sekarang tidak peduli kenapa aku membawah dua payung. Tapi diantara semua kesiapan untuk bertemu dia, hanya satu yang tidak siap. Hujan. Dia tidak turun-turun lagi. Dan sekarang sudah tiga hari. Tiga hari yang panjang.
Aku menghabiskan tiga hari yang panjang ini dengan kesepian. Tidak ada kakak,  tapi aku punya penghibur baru, menjahit. Menjahit dan mendengarkan lagu adalah salah satu pembunuh waktu yang menyenangkan. Mulai dari Eleanor Rigbi, jane and frank, Led Zep dan tak lupa juga reinkarnasi mereka Greta Van Fleet menemati gerakan tanganku. Eh tiba-tiba lagunya berpindah ke ‘anjing kacili’nya Bassgilano. Lagu yang aku download illegal karena lagu tersebut digunakan untuk membantu teman-teman membuat video lucu-lucuan. Aku menunggu sampai bagaian Chaosnya dulu baru ku ganti dengan Mondo Grosso.
Sekarang hari ke lima, aku sudah puasa makan siang 3 hari. Uang ku tinggal 50 ribu. Aku merasa kayak the martian yang menunggu bantuan dari teman-teman yang  meninggalkannya sedirian di Mars.  Tapi aku lebih menantikan hujan dari pada makanan. Tapi entah kapan hujan akan turun ke Mars, juga kapan hujan akan turun disini.
“Aktifkan Bluetooth mu.” Seorang wanita, Renny tiba-tiba bersuara disampingku dalam kelas yang ramai. Aku yang biasanya akan langsung bertanya kenapa, ini seperti terhiptos dan mengikuti instruksinya tanpa pretensi.  Beberapa file telah tertransfer ke HPku tanpa aku bisa berkata-kata. Dia pun sama hanya menatap layar HPnya. Mata kami bertemu beberapa detik. Tapi saling membuang pandang, dia entah menatap apa. Tapi aku pastinya menatap kekosongan.
“Sudah.” Katanya pendek, mengartikan Done di Hpku.
 Aku mengangguk. 
“Terima kasihnya nanti saja.”  Katanya sambil berbalik badan dan berlalu, aku sempat melihat dia seperti berlari sebelum betul-betul hilang terhalang tembok. Renny melakukan sesuatu yang tak pernah ku duga, dan aku tak punya persiapan untuk itu. Entah respon seperti apa yang aku harus nya berikan. Aku hanya… tidak tahu. 
Aku bukan pendoa yang taat, doa ku hanya sebatas mensyukuri makanan sebelum memakannya. Sekarang doa ku semakin panjang dan rutin, sebelum sarapan ku sebut kau dan hujan, makan siang,  makan malam, sebelum tidur, saat bangun, bahkan saat aku tiba-tiba bangun karena mimpi buruk, ku berdoa besok hujan dan kau ada  disana, aku semacam pengemis religious bercampur pawang hujan amatir.
Malam ini aku hanya menatap langit yang penuh bintang, aku melankolik sekali hari ini. Entah pengaruh apa yang pasti playlist dari Renny yang dikirimnya tadi di sekolah mengambil bagian penting di dalamnya. Salah satunya lagu Indonesia. Denila, ini tuh lagu yang  sangat cocok menemani aku sekarang. Dan lagu ini aku putar berulang-ulang dan menjadi soundtrack untuk malam ini. Soundtrack yang sempurna. Makasih Renny, aku harus mengakui sense musiknya cocok denganku, tapi kenapa sampai dia tahu jenis music yang aku suka? 
Besoknya hari yang tak hujan. Hanya ada embun di jendela. Aku mencari Renny. Aku ingin berterima kasih, tapi aku tak menemukannya sedangkan bel pagi sudah berbunyi.  Di kelas yang ramai karena lowong, aku memutuskan walau hari ini tidak hujan, aku akan menunggu dia disana.  Itu keputusan ku hari ini. Dan itu yang aku lakukan.
Sudah tiga puluh menit aku duduk sendirian disini, tak ada tanda-tanda dia untuk lewat. Tapi tadi malam aku berdoa kok, dan harapanku tinggi untuk itu.
Dia lewat.
Yah… dia lewat. Lewat. Aku hanya terdiam, entah apa yang membuatku seperti itu. Tapi jelas aku tidak bisa menawarkan payung sementara cuaca cerah tanpa hujan ini. Kan konyol. Dan  jelas dia luar biasa tadi, itu yang pasti, yang membuat aku semakin merasa pecundang tak berguna yang harus hidup sendirian di Mars dan sepanjang hidupnya makan kentang… Tanpa saus.
Aku menghabiskan sore itu dengan menyesal sendiri di tempat duduk, mencoba mencari oknum yang harus disalahkan dan selalu yang  aku temukan hanya aku yang bodoh. Sangat bodoh. Sangat sangat bodoh.
Dan setelah menghitung kembali ternyata jarak antara aku dan dia hanya tujuh langkah setengah.
Untuk yang berusaha cepat pulang, berlari tanpa mengerti jatuh, serobot kalau perlu, ingin cepat pulang, membuka pintu rumah tanpa sabar, dan saat itu tertutup keras kau sadar kau aman, namun kau tak berbobot, rembah tanpa perlawanan. Untuk kau yang ingin cepat pulang, kita sama.
Setelah beberapa hari ini tidak menonton TV, aku memberanikan diri untuk melihat kekonyolan apa yang ada di dunia televisi yang kian tak ber faedah akhir-akhir ini. Aku ingin mencari sesuatu untuk dicercah setidaknya untuk menyenangkan diriku sendiri. Tapi yang layar kecil itu tunjukan padaku adalah footage dari bencana, yang memilukan dimana digambar terlihat seorang wanita sedang menggendong anak kecil yang menangis keras mencari ibunya. Aku pasti langsung akan mengenal kakakku dimanapun dia berada, bahkan saat kotoran lumpur menutupi wajahya. Dia tetap kakaku, kakakku yang mengendong anak kecil.
Walaupun kata ku itu keren tapi aku tidak pernah bisa menghargai dan memahami sepenuhnya maksud kakakku resign dari tempat kerjanya yang sangat bisa membuat kami makan lalapan 4 kali dalam sekali sarapan. Tapi ini membuatku sadar, dia melihat dunia lebih luas dari pada aku, dan cakupan pandangku seperti sangat sempit. Jauh dibanding dia. Langsung ku kirim pesan panjangku ke kakakku, dan ini untuk pertama kalinya aku menulis pesan sepanjang ini. Dia melihatnya, berarti dia masih belum tidur, tanpa menunggu dibalas, aku langsung menelponnya.
            “Apa kabar kak?” suaraku berat.
            “hemmm… kenapa?” sepertinya signal disana gangguan atau apa.
            “kak baik-baik saja, kan? Iya kan? Kak… kak” semakin kurang jelas saja suara diseberang.
            “kak, aku Cuma mau bilang, kakak hebat, aku sayang kakak.” Entah itu tembus kesana atau tidak,  setidaknya aku sudah mengungkapkannya.
Aku susah tidur malam ini, dan kali ini yang ku doakan adalah hujan, dia dan khususnya kakak. Tuhan dengar doaku, khususnya mengenai kakak.
Saat akhirnya mataku akan tertutup, pesan masuk ke HPku.
            Kakak baik-baik saja, kok…  nggak usah khawatir ya, besok malam kakak pulang… dan tentu saja … kakak sayang kamu.  :*
Aku menangis keras.
Besoknya aku lupa sarapan, lebih tepatnya aku mogok sarapan. Dan untuk pertama kalinya aku bersyukur hari ini tidak hujan, aku punya agenda untuk hari ini. Maaf ya.
Sepulang sekolah aku langsung ke toko Serda. Mengeluarkan Uang 50 ribu ku dan bertanya seperti mengutip iklan printer, 
“kalau ini bisa dapat apa?”
Bu Sanny tersenyum.
Aku memborong beberapa bahan makanan, mulai dari sayuran sampai bumbu makanan, sudah ku bilang kan toko serda itu hebat, mereka punya apa yang aku butuhkan dan mereka tidak pernah mengecewakanku.
            Aku gagal dalam memasak. aku belum bisa, tapi aku harus bisa. Memasak tidak semudah melihat resep, aku butuh kakak untuk mengajariku. Kakak sebentar lagi datang dan aku belum menyelesaikan apa-apa…
            “Selamat malam, ” suara kakak mengema, seperti bel selesai di acara Master Chef dan Chef Juna akan langsung memaki-maki padaku, tapi tak mungkinkan kakakku seperti itu.
“Owh… what a surprise, sejak kapan…” kata kakaku binggung. Ini pencapaian loh. Akhirnya aku membuat kakakku bingung.
Kakakku mendekat.
“Mari kak bantu.”
“Ah berisik, sana duduk. Memasak itu butuh konsentrasi. Dan…”
“Okey, Juna junior, tahan disitu,  kakak akan kesana, duduk diam dan menunggu dengan sabar dan harus enak ya, kalau nggak enak…”
            “Kakak bisa kok makan makanan pesan antar kalo ini nggak enak.”
“Nggak mungkin, kakak akan tetap memakannya bagaimana pun rasanya. janji”
“Berisik.”
Makanan buatan ku pun selesai, omurice yang berhasil selesai. Setelah beberapa percobaan  yang disadari kakakku.
“Ini percobaan ke berapa?”
“Apa nggak lebih baik, berdoa dan bersyukur aja.” balas ku sinis.
“Ya, Silahkan.”
“Maksudnya aku yang berdoa?”
“Nggak, kamu harus menghubungi pendeta secara online dan menyuruh berdoa makan untuk kita lewat Video Call… ya kamulah yang berdoa, ayo…”
Aku tidak tahu bagaimana. Tapi akhir-akhir ini kan aku rajin berdoa. Ini bukan masalah besar.
            “Mari kita berdoa. Ya Tuhan berkatilah makanan dan minum ini, semoga jadi berkat, dan semoga besok hujan, hujan yang sangat deras dan akhirnya aku bisa memberikan payungku ini kepadanya ya Tuhan, dan akhirnya kita…” tanpa menyelesaikan doa ku pun aku sudah sadar, aku mengucapkan doa rutinku dimana dia dan hujan ada di dalamnya tapi kali ini dengan suara lantang di depan kakak lagi.
            “Amin.” Kakakku mengakhiri doaku. Ada barang 7 detik dia hening sebelum tawanya benar-benar pecah. Aku tak mampu juga menahanya, kami tertawa dengan makanan ada di mulut kami.  Saat kakakku menatapku dengan tatapan introgasi,
            “Jangan tanya kak, jangan…” kami hanya saling membagi tawa. Sangat menyenangkan. Aku sampai lupa tanya seberapa enak masakanku, tapi dari cara makan kakak yang lahap, pasti cukup enak.
            Kami menghabiskan waktu di teras atas, sambil mendengarkan kakak menceritakan pengalaman yang baru saja dia alami, betapa kecilnya kita di dunia yang begitu luas ini. Aku memperhatikan dengan seksama, seperti seorang anak kecil mendengar kisah dari seorang kakek tua.  Sudah sangat larut, sampai kami sama-sama mengantuk,  kami menguap disaat yang bersamaan.  Aku sepertinya ingin tidur di teras ini,  bodoh amat dengan dinginnya, aku tak ingin bergerak. Tapi kakakku tidak menyetujuinnya.
            “Bukannya apa, tapi kau tak mau masih disinikan pas hujan turun?”
            “Hujan turun? Besok?”
Kakak mengangguk.
“Iya betul, ayo masuk.”
Kakakuk memang tahu banyak hal, bahkan dia tahu besok akan hujan, dia pastinya punya penjelasan untuk pernyataanya, dia selalu punya, aku ingin menanyakannya tapi aku lebih memilih menjadi pengiman yang taat dan percaya besok akan betul-betul hujan.
Aku tidur cukup nyenyak malam, seperti baru menyelesaikan pertandingan final sebuah olah raga dan menang, tapi lelah.
Badanku di gerak-gerakkan. Aku mulai tersadar, aku melihat senyum kakakku. Tanpa berkata apa-apa dia menunjuk kearah jendela. Aku mengikutinya.
Hujan deras. Suaranya pun otentik, biasanya ini membuat kita ingin tidur lagi, tapi ini bukan biasanya, kan? Aku tersenyum melihat kakakku,
“Makasih kak.”
“Ehhhh… ke Tuhan. Doamu terkabulkan, kala… ”
Belum selesai kakak berkata, aku langsung berdoa. Kakakku sabar menunggu ku selesai. Saat selesai, sebelum kakakku mengeluarkan kata apa-apa, langsung ku potong.
“Maaf ya kak, bukanya tidak ingin mendengar ucapan kakak, tapi aku punya hal yang harus aku kerjakan. Penting ini.” Aku  langsung bergegas bangkit. Tak sampai 10 menit aku selesaikan rutin persiapan ke sekolah ku.  Aku langsung berlari keluar rumah.
“Hei!!! Tunggu, tunggu!” kakakku menghentikan langkahku.
“Kenapa lagi? Aku buru-buru.”
“Nggak butuh ini?” kakak menunjukan payung biru navy di gegemannya.
“Oh iya sampai ketinggalan, lempar aja kak.”
Mendarat dengan aman di tangan kiri yang tidak memegang payung.
            “Hei ingat, ” ini dia kebijaksanaan  kakak akan keluar. Entah apa kali ini.
            “Apa? Cepetan?”
            “Nggak, nggak ada,  kak salah, kau udah tahu apa yang kamu harus lakukan.”
“Makasih … kak.”
Aku memasukan payung tersebut ke kantong hasil jahitanku.
Saat jalanku sudah jauh dari rumah, sambil tertawa-tawa aku sadar,  eh… aku menunggu dia sepulang sekolah, kan? Kenapa aku harus cepat-cepat ke sekolah? Jawabanku, aku tidak sabar... Ingin… Melihat… Dia.
Aku tidak sabar. Di apel pagi aku tidak sabar. Di dalam kelas aku tidak sabar. Waktu istirahat aku tidak sabar. Tahu-tahu aku sudah berjalan saja ke dekat tempat itu.  Dan bagian terbaiknya, hujan masih belum saja berhenti. Yeay!
Renny berjalan kearahku, wajahnya rapuh seperti disiram kesedihan. Dan kenapa dia tidak memakai baju sekolah? Dia menghadapku dan terdiam. Aku juga mengikut. Dia basah, sepenuhnya basah. Aku punya payung. Tapi… eh… tapi…
Bagaimana sekarang, dia butuh payung segera, dia bahkan berhenti didekatku, pasti maksudnya itu, aku orang yang membawah dua payung dan dia sedang basah, payung ysatu ku nganggur, kan logikanya mudah.  Dan terlebih lagi aku harus berterima kasih padanya. Biasanya orang langsung memberikan payungnya. Tapi ini bukan biasanya. Dan aku tak tahu harus bagaimana.
Dia lewat. Iya, dia lewat. Lewat.
Tanpa memerdulikan kebingunganku dia berjalan santai melewati aku dan Renny. Renny masih diam, dia baru lewat. Dan aku… Harus bagaimana!?
Hujan kejam terhadapku, apalagi semesta. Tapi aku tak ingin dia mengalahkanku dengan mudah. Tujuanku tetap sama, sampai titik ini aku tak ingin hujan membasahi dia.  Dan itulah yang terjadi.  Dia merasakan sesuatu yang  berbeda, hujan tak lagi berkuasa atasnya, kepalanya tidak lagi ditetesi hujan, payungku menaunginya, aku mengejarnya dan kulepaskan payung biru navy ke tangan Renny tanpa berkata. Aku berada disampingnya, dia tidak basah karena payungku. Itu tugasku, dan aku basah karenanya. Biasanya orang akan merasa dingin kalau diguyur hujan begini. Tapi ini bukan biasanya, ada perasaan hangat di dada ku yang mampu mengalahkan dingin.
Jarak diantara kami hanya satu langkah.
            Dia menatapku. Kami saling  mengunci mata. Semoga ini bisa mengunci waktu, membawah kita ke tempat berbeda dimana waktu hanya mitos masa lampau, dan kita lah penguasanya, segala hal pasti mungkin.  Izinkan aku berharap melawan kebenaran  ini dan kabulkan permintaan teregois ini.
Tidak! waktu terus berjalan tanpa peduli. Dia  mengedipkan matanya, tetap menantapku. Aku tengelam dalamnya. Bagaimana mungkin dua bola mata bisa menarik seorang manusia dalam arus yang begitu dalam, dimana melawannya menjadi pilihan terburuk. Tatapannya  menunggu aku untuk mengeluarkan suara. 
            “Eh…”
Aku tak tahu apa yang harus ku katakan. Pelangi di ujung sana menyaksikan kami. Indah, sembari mengingatkan pertanda cuaca yang jelas.
Aku mohon, berikan aku… Berikan aku sedikit waktu lagi, pelangi.  Kataku dalam hati.




Sabtu, 29 Oktober 2016

Suicidal Note to The Murderer



“They would have been twice as thorough as usual. Suicide is a difficult thing to have to accept—”
Robert Galbraith The Cuckoo's Calling (2012)

I clearly make an embarassed mistake, I think the birthday of John Dickson Car is (30/10), so I finish the book really quick to chase the deadline. So, (30/11) is the real 110th  birthday of the Grandmaster of the locked room Mystery. John Dickson Carr. And to celebrate that, JJ from https://theinvisibleevent.wordpress.com/, invite a Carr fans or mystery fiction fans in general to submit something Carr-related. And I as a novice reader of Carr legacy, think it seems like fun to join the festivity. as the beginning for me, I usually start a series chronologically like in Sherlock Holmes, Poirot, and Ellery Queen but I make my exception not to choose “Hag’s Nook”(1933) instead of prefer “The Case of The Constant Suicide”(1941). Though I just finished reading the day before (29/10) D-Day, because some  kind of busyness.

In a train heading to Glasgow, Alan Campbell meet in some kind of comedic way with His along time Rival, Kathrin Campbell to find out they are related to the same Campbell family in Scotland, that related to uncertain cause of dead of Angus Campbell. After setting up a view of no suicide insurance policy, the body of Angus found in the bottom of the castle, seem that the old man threw himself from the high tower from the wide open windows. The room is simply showing  indicate of the suicide. And there was something inside that room which is give a creepy Hocus-Pocus impression. An empty dog carrier box with  mysterious unknown content. After the appearance of Dr Fell who believed by the family to prove the entire problem in which it is a suicide or not, another attempt of suicide from the same tower happen, and after that another dead body found inside locked in his cottage. Once again indicated as a suicide.

This is my first Carr book that i finished. My own problem is I’ve know the reputation of JDC before I read it, and make it more subjective standpoint to make a judgment. But I try not to do it so.  Not like my encounter with Master of Suspense Alfred Hitchcock, that I have no idea who the gentleman is but impressed by the opus. Same case with Ellery Queen. The content first, name after. So, I’m afraid to overrated Carr, but i prove I’m  wrong. Carr is that high.

The mystery element in this novel is really pointed out, the surround element of the cases, the motive and psychological attempt in suicidal by Dr fell is good, well hinted and fit with it premise. i found The first trick (or the main trick) pretty decent. Me myself, figured the trick quite fast thanks to clear hint. But maybe it has some issue with trivial science knowledge that the reader must know before hand, a dodgy science. Lucky me, I know how it work by experience in another works. think by that, it Should have some clue or some more attention giving to reader, because a lot of reader (include me), don’t really like a solution hinge on specific knowledge or uncommon fact to most of people like sometime Conan or Kindaichi do. But this is an exceptional for me. The reason is maybe because I know those specific Knowledge.

The main puzzle for me in this novel, not the main trick which happen in the castle but the last dead body in a locked cottage. It has a better premise to think and of course slightly better solution based on that locked impossible situation, more convincing than the main trick, quite well pointing and hide the clue at the same time.
But I have a bit issue with the “whodunnit” factor. How the perpetrator known by Dr fell  is not as good as gold. Carr use the plot device similar with Conan Doyle usually use in the past, but slightly week and a bit limp to gratified the whole plot even with a hint that can carry reader to that conclusion, but too bias to be interpret . Maybe it was the week part of this novel.

Frankly, at first I had a bit problem with Scottish accent (Elspat is ate up my time LOL). It is my first time read an accent write in the book, so need time to getting used to it, but when i getting used to translate it to something I understand, I tried to imitate the accent with my so-stereotype  Scottish, and it funny because I do it in loud voice in the middle of the night. I really like the joke in this novel. The running joke about “American and Angus” make me laugh more and more it appears. Maybe a lot of joke and gag is too slapstick and cliché if compere to now days, and sometime not that funny as it expected. But it a lot of fun and a sort of hook in this book.

It’s a good start for me, I think. The trick not really  that strong but a good one. The character  and side story beside the main Mystery (love story of the relative in which end up legal?)  is fun to read.  not dragging at all.  enjoyable story.  Not a perfect one and I know JDC have more better stuff than this. But as an introduce book it really hook me, and satisfied me. Pay my expectation in those big name. and I’m a fans now.

Selasa, 11 Oktober 2016

Chain of The Queen


Pure reasoning has it that when you have exhausted every possibility but
one in a given equation that one, no matter how impossible, no matter
how ridiculous it may seem in the postulation—must be the correct one”
Ellery Queen , (The Roman Hat Mystery ,1929)

Akhirnya bisa memuat posting-an Blog setelah waktu yang lama. Pengaruh malas pastinya. Tapi kali ini karena akhirnya bisa menulis sesuatu mengenai  mystery fiction,  harus menulis tentang konten yang layak. Dan yang  dimaksud dengan layak disini adalah novel pertama yang ditulis oleh dua saudara sepupu Frederic Dannay dan Manfred Lee atau yang lebih akrab dikenal dengan nom de plume sama seperti protagonist-nya Ellery Queen. Dengan novelnya The Roman Hat Mystery (1929)

Saya akan sedikit mengikuti cara menulis blogger favorit saya untuk memisahkan antara penulis dan karakter, Ellery untuk Karakter dan Queen untuk Penulis.

Di Indonesia sendiri, nama Ellery Queen mungkin sangat jarang didengar. Kalah terkenal dibandingkan dengan Arthur Conan Doyle apalagi dengan Agatha Christie. Apakah itu disebabkan karena tidak ada cetakan terjemahan Ellery yang dicetak di Indonesia? bukan  itu sepertinya. Mungkin pengaruh cerita misteri di Indonesia mulai menurun kepopulerannya? karena berdasarkan riset pribadi, ternyata Ellery Queen pernah menjamah Indonesia melalui dua media. Pertama Buku Rocket (penerbit yang sudah tidak ada lagi) pernah merilis beberapa karya Ellery Queen di Indonesia misalnya Irama Neraka (double,double) di tuduh membunuh (Murderer is a fox)  dan the King is Dead bersamaan dengan kepopuleran Ian Fleming waktu itu. Kedua di TVRI, serial TV Ellery Queen yang hanya bertahan 1 musim di tanyangkan  beberapa kali.

Berdasarkan fakta itu, dua bersaudara ini lumayan dikenal di negara kita walaupun untuk orang-orang angkatan 60an akhir atau 70an awal. Tapi sekarang sedikit yang bisa mengerti jika kita bicara mengenai Ellery Queen. Sedangkan pengaruh mereka terhadap cerita mystery sangat besar. Baik itu buku, radio show apalagi TV dan pengaruhnya terhadap berbagai karya lainnya. Saya tidak akan membahas lebih luas lagi mengenai kedua bersaudara yang juga memiliki pen name Barnaby Ross ini, (mungkin nanti di post yang terpisah) tapi saya akan lebih mengerucut ke karya yang membuat dunia Mystery-Fiction mengenal mereka, The Roman Hat Mystery.

The Roman Hat Mystery adalah Novel yang di tulis pertama kali oleh Dannay dan Lee yang   dimasukan dalam sebuah kompetisi menulis dan sebenarnya menang tapi karena ada sesuatu dan lain hal penyelengara membatalkannya dan memberikan hadiah kepada penulis lain. Tapi beberapa waktu kemudian penyelenggara lomba tersebut bangkrut. oleh karena itu mereka (Queen) memberikan pada penerbit lain dan menerbitkan buku ini dengan nama pena sama seperti pemeran utamanya , Ellery Queen.

Sesuai dengan judulnya, plot novel ini berkutat dan berkaitan erat dengan topi tapi bukan topi Romawi, Roman disini adalah Teater tempat seorang pengacara Monte Field menonton pertunjukan “Gunshot” dan di interval kedua ditemukan tewas karena racun. Dan tanpa topi.  Nantinya investigasi ini akan berputar di bagaimana cara mereka menemukan topi dengan berbagai macam usaha dari para penyidik. Investigasi dalam kasus ini di pimpin oleh inspektur Richard Queen, seorang polisi paruh baya New York yang disegani para bawahannya. Mencari petunjuk dimana seluruh Teater dengan ratusan penonton menjadi suspect dan  dengan petunjuk utama topi yang hilang diantara ratusan saksi.  Tapi dia tidak bekerja sendiri dia ditemani oleh bawahan-bawahan yang cekatan dan diberkati dengan seorang anak kandungnya yang adalah penulis dan penggila buku, Ellery Queen.

Yang menarik dari novel pertama ini, adalah present atau kehadiran dari si master Detektif Ellery sangat sedikit. Terlihat dia menjadi seperti bayangan dari bapaknya. Bahkan Ellery tidak hadir di klimaks walaupun dialah yang memecahkan keseluruhan kasus ini. Awalnya terlihat seperti cerita dari Richard Queen dibanding Ellery. Karena dalam penyidikan kebanyakan ditangani dan kita mengikuti gerak-gerik dari inspektur Richard Queen untuk mencari lokasi topi yang hilang, mengiterogasi saksi, mengerakan sekian banyak polisi, dan DA (penuntut umum), juga interaksi dengan sekian banyak orang. Sedangkan anaknya yang sebenarnya adalah Protagonist utama di cerita ini, bergerak dalam bayang-bayang. Walaupun akhirnya dia pulalah  yang memecahkan kasus dengan rangkaian deduksi yang brilian. Aku sempat terpikir awalnya apakah Ellery hanya merupakan delusi dari pemikiran Richard Queen dan bukan sebuah entitas manusia yang nyata. Tapi beruntungnya , Ell mendapatkan tempat yang lebih layak di cerita-cerita selanjutnya sebutnya sequel novel ini French Powder Mystery. Ellery lebih terlihat seperti detektif yang semestinya.

Aku juga sempat membaca bahwa Queen memiliki fetish akan objek. Dan jika demikian itu menjelaskan banyak hal. Pencarian besar-besaran terhadap sebuah objek kemudian menjadi semacam troupe bagi novel-novel Ellery Queen selanjutnya. didunianya Queen, orang-orang suka menyembunyikan objek dan para investigator sangat suka mencarinya.

Dalam novel ini banyak sekali karakter yang diperkenalkan baik itu saksi, tersangka bahkan beberapa karakter pendukung lain. Juga para anggota polisi. Untung saja di halaman awal Queen menulis daftar nama karakter juga lengkap dengan denah teater yang sangat membantu untuk memecahkan kasus ini.

 Nah yang sangat menarik dari novel ini adalah ke-Fairplay-an plot. Karena kita tahu Queen sangat terpengaruh oleh S.S Van dine dimana Fairplay adalah faktor penting dalam fiksi misteri. ke-Fairplay-an itu  dirancang dengan bagus di cerita ini. di sepanjang cerita kita seperti hanya mengikuti police procedural pencarian topi, tapi ternyata petunjuk penting bertebaran (tapi tak sebaik novel Queen yang lain)  dan itu sangat berpengaruh jika ingin untuk memecahkan kasus dengan kemampuan kita sendiri. dan yang terpenting, adalah rangkaian deduksi ala Queen diperkenalkan di Novel ini. Dimana elimination method of deduction menjadi kewajiban dan menjadi point utamanya. Sebut saja seperti ini. Pelaku memiliki karakteristik X, Y dan Z dan setelah kita deduksi selain karakter A dan hanya karakter A yang memiliki ciri-ciri seperti itu, maka dialah pelakunya. Tapi  tak semudah itu. Karena rangkaian deduksi di novel ini lumayan komplek untuk dengan mudah dipecahkan tapi semua akan mengerucut ke hanya satu karakter saja jika mengunakan deduksi dengan benar.


Tapi bagi saya, daya tarik utama di novel ini tidak lain dan tidak bukan adalah Challenge to the reader. Saya sangat senang saat sebuah novel berhenti di tengah-tengah hanya untuk “Stop! Semua petunjuk telah tersedia, saatnya untuk memikirkan semuanya”. Dan ini sangat unik. Kita bisa melihat banyak yang melakukan hal yang sama, apalagi jika mengambil contoh di Jepang. Karena di sana, Ellery Queen sangat dipuja bahkan sampai sekarang. Sebut saja para penggerak Shin-Honkkaku (new Golden Age Mystery) di jepang. Shoji Shimada di debutnya “Tokyo Zodiac Murder” memasukan bahkan dua Challenge to the reader, kemudian ada Alice Arisugawa dan Norizuki Rintarou (dua-duanya bisa dikatakan Ellery Queen-nya jepang). Bukan hanya itu bisa dilihat juga di manga Conan, Q.E.D , DDS dan Kindaichi(mereka sangat terpengaruh oleh  Queen) walau tidak begitu explicit tapi saat mereka mengatakan “semua misteri telah terpecahkan ” konten Challenge to the reader ini ada.

Secara keseluruhan novel ini adalah novel yang menarik, berisikan konten misteri yang mumpuni, memberi contoh pengunaan chain deduction yang keren yang dan  sekarang sulit di temukan di novel misteri era ini.  Walau karakter diluar Inspektur Queen terkesan Bland, tapi tidak masalah karena Queen memperbaikinya  di novel selanjutnya. Bukan novel Queen terbaik tentu saja tapi tetap menarik untuk dibaca, karena saat pembaca ditantang oleh penulis itulah saat terbaik untuk melawan balik. entah apa maksudnya. hehe  Ini juga merupakan Novel Ellery Queen yang pertama bagi saya.

Sabtu, 23 Juli 2016

All about similarity

"To create something exceptional, your mindset must be
 relentlessly focused on the smallest detail."
Giogio Armani
saya baru tahu, mungkin karena kurangnya referensi, bahwa ternyata film "Children Of Man" adalah adaptasi dari novel P.D James,  kirain itu adalah dua judul yang sama dengan cerita yang berbeda tapi saat membaca paragraf pertama novelnya, ok... this is kinda familiar, or i'm just too idiot not to realize it. 

kali ini saya akan memposting cerita pendek yang saya tulis waktu sedang menunggu tugas dari siswa-siswi di kelas, dan di selesaikan di perpustakaan sekolah ... 

Perhatikan Detil
Oleh Glint Lintjewas

Detil . Harus memerhatikan detil. Semua pergerakan yang ku persiapkan ini harus berdasarkan pada evaluasi mendalam . semua tindakan yang ada harus dikalkulasi dengan tepat . ini bukan perkara mudah dan ini bukan masalah sepele. Ini sesuatu yang krusial karna berkaitan erat antara hidup dan mati.
 Tak pernah aku yang hanya seorang pria kecil lemah yang hidup dengan normal menurut standar sosial masyarakat urban jaman ini melakukan hal yang luar biasa sama sekali. Aku tak pernah meraih apa-apa yang begitu mengejutkan dalam hidup. Hidup berjalan sebagaimana dia berjalan . Namun tanpa kejutan . Hidup ini terlalu datar untuk diceritakan. Aku seorang pegawai perusahaan yang setiap harinya bangun pagi pukul 6 , sarapan normal , mengecup kening istriku dan pergi ke kantor, beralih dari satu dunia yang datar ke dunia datar lainnya hanya saja lebih menyebalkan. 
Semua berjalan begitu lancar dalam hidupku. Pendidikan terselesaikan dengan baik dan cepat tanpa perlu berlama-lama dibangku pendidikan yang membosankan itu. Setelah lulus dengan nilai yang membanggakan orang tuaku tapi tidak bagiku, ternyata pekerjaan mudah didapatkan tidak seperti mitos yang kudengar di tahun-tahun akhir kuliahku. Klasik penyebabnya kenalan ayahku yang membuat aku bisa langsung bekerja. Dan bukan hanya bekerja disalah satu perusahaan terkenal di Negara ini saja, tapi aku mendapat bonus istri.
 Sophy,  Anak dari bosku yang tertarik denganku katanya. Ya, perawakan ku yang tidak terlalu besar dan pendiam  menurutku menjadi akar penyebabnya . Mungkin itu yang membuat istriku tertarik, bukan sekedar itu tapi karna aku yang menjadi pengawai terbaik 6 bulan berturut-turut  dan menjadi anak kesayangan bos ku alias menantuku. Aku seakan bukan menikah dengan anaknya tapi menjadi aset ayah nya. Tapi aku tidak bisa menolak. Siapa yang mau menolak wanita cantik dan mapan seperti istriku. Tinggi berambut pendek sebahu dengan wajah manis yang selalu menarik dengan senyuman indah digaris wajahnya.
waktu kami memang diawali dengan indah . Semua kelihatan menyenangkan . Mempunyai istri yang cantik, kehidupan finansial yang meyakinkan dan terlebih lagi perhatian istriku yang begitu besar untuk ku. Bahkan dia belum berencana untuk memiliki anak dengan alasan agar perhatiannya hanya tertuju padaku. Semua berjalan dengan begitu lancar dan normal . Hidup yang  bahagia, sekali lagi menurut standar social manapun mulai kami rintis.
 Tinggal di sebuah perumahan di daerah pinggiran kota menjadi langkah awalnya. Perumahan.heeh… Kompleks manusia membosankan yang  memiliki dua persamaan besar, orang-orang yang tak saling  peduli yang tinggal dalam bentuk rumah yang sama. Rumah-rumah disini memang terlihat sama persis. Tapi tak mengapa begitulah ciri khas perumahan . Melompat dari ruang membosankan satu ke ruang membosankan lainya. Aku terbiasa untuk itu.bukan sesuatu yang menarik. Semua memang berjalan lancar sekaligus membosankan sampai Florena menempati rumah disebelah rumah kami.
 Entah apa yang membuat wanita ini spesial  . Terlalu banyak alasan untuk menjelaskan kenapa. Mungkin perjumpaan pertama  saat si wanita ini datang  menghantarkan makanan sebagai tanda perkenalan. Tatapan mata itu tak pernah  hilang dari ingatanku terlebih saat dia malu-malu berkenalan didepan pintu rumah . Aku yang selalu menganggap tak ada yang bisa membuat aku tercengang kini menganggap teori ini salah besar. Dia adalah wanita yang membuatku jatuh cinta sesederhana  itu
.  Aku tercengang oleh wanita ini. Kami bercakap – cakap tanpa batas. Berjam-jam kami bercerita walau itu pun tidak bisa membuatku tahu penyebab dia akhirnya pindah di samping rumah kami. Ada masalah besar yang menarik wanita elagan yang memang terlihat sangat tidak cocok dengan situasi kompleks ini. Ini bukan daerah dimana dia seharusnya berada. Dia seharusnya berkumpul dengan para wanita glamor di sebuah bar mewah , makan malam di restoran berbintang dengan hidangan prancis yang terlalu mahal untuk ukuranya sendiri, dan tinggal dengan konglomerat di kondominium mewah yang menghadap ke pantai. Itulah tempat idealnya menurutku. 
Waktu membuat kami akrab . aku tak pernah seakarab ini dengan makhluk yang disebut manusia sebelumnya. Dia membuat aku yakin dialah yang sebenarnya harus bersamaku . dialah sebenarnya yang membuatkan aku kopi di pagi hari , dialah yang sebenarnya menginggatkan ku untuk berhenti mengunakan tangan kiri untuk menyantap makanan. Dialah yang seharusnya dan dialah yang semestinya. 
Aku kasihan pada istriku tapi beginilah aku Dan kenyataan yang datang bersamaku . Akupun mengatur untuk sift sore di kantor dengan satu alasan sederhana. Supaya siangnya aku bisa menjalani hidupku yang sebagaimana seharusnya bersama Flor, bunga hidupku. Begitu ku mengodanya. Tapi itu tak pernah cukup , malamnya lagi aku kembali ke kehidupan yang sama lagi 
  Terang saja kami menjadi terlalu akrab untuk disebut tetangga. Semua yang kami lakukan terlalu intim untuk dianggap permainan belaka. Aku sadar ini salah tapi aku betul-betul sadar bahwa inilah yang aku inginkan dalam hidup. Bersama dengan wanita ini hingga maut merajam . dia telah memiliki hatiku sepenuhnya dan seutuhnya.
  Hingga akupun memutuskan untuk menikahinya . tapi Flor selalu menanyakan tentang istriku. Aku akan menceraikannya itu mudah hanya urusan kertas dan pena. Tapi dia meyakinkanku bahwa itu tidak pernah cukup. Alasanya masuk akal. Jika kami cerai maka aku harus mengatur harta gono – gini, memberikan tanggungan bulanan dan yang lebih menyedikan lagi hilanganya pekerjaan secara permanen. Hanya akan membuat semuanya menjadi lebih sulit. Tapi bagaiman kalau aku membunuhnya saja? Kan beres.
  Kami setuju dan aku mulai merancang rencana dengan detil setiap bagian rencana jahat ini terkalkulasi matang bahkan di atas kertas, tak bercela. Dan setelah mempertimbangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, inilah saatnya. Hari inilah dimana aku akan mengeksekusi istriku sendiri dengan kehidupan sesungguhnya yang menanti setelahnya. Ini sebagai pertanda untuk membuka hidup yang baru dengan membunuh bagian hidup yang lama. Bagian terpenting dari rencana ini harus terlaksana. 16 kali rencana ini gagal karna aku salah memperhitungkan waktu dimana pos satpam di kompleks kami kosong. 
Tapi setan itu berpihak pada sekarang. Pos satpam kosong tanpa penjaga. Itu yang menjadi petunjuk menjalankan misi ini. Ku lewati pos itu dengan santainya . Memutar ke jalan belakang agar tidak melewati pangkalan ojek kompleksku. ku ambil sarung tangan hitam yang selalu berada di dalam tasku 17 hari terakhir ini bersama topeng hitam dan kaos oblong tua berwarna hitam juga dan tak lupa pisau sebagai pemeran pembantu terbaik dalam lakon ini. Semua persiapan telah siap. 
Dengan perlahan-lahan aku melangkah ke pintu rumahku . Pintunya ku buka perlahan dengan kunci ditangan  tanpa suara. Langkahku pasti walaupun kegelapan mengelilingi, tapi ini rumahku aku tahu arah ke kamar bahkan dengan menutup mata. Dan gelap malam tak segelap menutup mata. Pintu kamar terbuka dan memang selalu begitu . seorang wanita tertidur pulas di kegelapan kamar . istriku . ah kasian sekali engkau terjebak dengan lelaki sepertiku. Tapi saat melihatnya lagi, aku seakan mengurungkan niatku. Tak bisa. 
Aku tak pernah membunuh sebelumnya. Tak mungkin aku akan membunuh wanita yang mencintaiku. Akupun terduduk berpikir sejenak. Keheningan malam menekanku begitu eratnya dan seakan bisikan gelap itu penuh keotak. Aku di persimpangan dan keputusan terberat dalam hidupku harus kuputusakan dalam hitungan detik. Baiklah ini sulit, aku tak bisa. Aku harus berbalik dan memasang lampu kamar. 
Tapi ingatan tentang flor mengubahku. Dengan cepat pisau ditangan tertusuk berulang-ulang ke istriku bahkan saking cepatnya dia tidak terjaga sedikitpun sebelum meninggal. Gila! aku membunuh seseorang dan itu istriku . Ternyata batas antara hidup dan mati setipis itu. Sepersekian detik maut menjemput hidup.
 Aku harus tetap tenang, bagian tersulit dari rencana telah dilaksanakan. Dan kebahagian besar sedang menanti diseberang pintu. Aku keluar dari kamar dan menghancurkan gagang pintu , melempar kaca depan dengan batu dan berlari cepat ke arah belakang. Berjalan perlahan dalam gelap malam, langkahku sengaja untuk membuat orang terbangun dari lelap mereka.
 Bangunlah kalian para orang bodoh. Olok-olokilah aku tanpaku peduli , Perhatikan aku , jadi saksi untuku. Saksi kemenanganku . lihatlah si pencuri palsu ini. Tapi jangan dengan seksama. Yang ku tujuh adalah tempat sampah terdekat di kompleks ini membuang semua yang bisa memberatkan situasi. Kaos tangan , topeng, pisau , termasuk kunci rumah flor yang ada padaku demi sebuah detil yang harus diutamakan . Aku tidak mau saat diperiksa oleh polisi nanti kunci ini tetap besarang di saku ku. Itu terlalu bodoh .
 Aku harus mencari seseorang yang akan bersama dengan ku saat mayat ditemukan. Bagaimana dengan Recky ojek langananku. Sebenarnya itu bagian dari rencanaku. Aku kembali memutar dalam kegelapan untuk bisa muncul kembali di dekat pangkalan ojek . tempat yang tadi tak kulewati. 
“selamat malam Rob, selalu tepat waktu untuk pulang rumah” kata Recky . jawaban yang selalu kuinginkan . 
“untuk istriku, kau tahu… hei Recky! kau ingat tentang video Smackdown yang aku janjikan untuk kau pinjam?” jawabku sedetil mungkin sesuai dengan rencana.
“ia.ia... video tentang The Rock saat dia bersatu dengan Mankind kan? Rock and Sock Connection?”jawab Recky girang
“temanku telah mengembalikannya , sekarang mau mengambilnya dirumahku?”tetap tenang.
“pastinya … ayo naik tuan penumpang” kata Recky dengan wajah  senang. Terlalu senang.
Motor diparkir di pinggir jalan depan rumahku. Aku berjalan perlahan kearah pintu diikuti Recky yang baru saja mematikan motornya. Inilah penentuannya . Aku mengambil kunci disaku dan memasukannya ke lubang kunci…
 Tidak berputar? Kenapa? Kuncinya salah ? coba lagi… Saat dicoba untuk ketiga kalinya , pintunyapun terbuka. tapi bukan aku yang membukanya. Pintu terbuka dari dalam dan istriku menatapku dengan senyuman. Senyum terngeri yang pernah mataku tatap. 
“Akhirnya kau pulang sayang. Aku takut sekali . Tau ngak di sebelah katanya terjadi perampokan. Aku terbangun karna bunyi kaca pecah . Kasian sekali tetangga baru kita sayang. Mereka bilang dia meninggal di tikam. aku takut sekali … itu bisa terjadi padaku loh…”