Sabtu, 29 Oktober 2016

Suicidal Note to The Murderer



“They would have been twice as thorough as usual. Suicide is a difficult thing to have to accept—”
Robert Galbraith The Cuckoo's Calling (2012)

I clearly make an embrassed mistake, i think the birthday of John Dickson Car is (30/10) , so i finish the book really quick to chase the deadline. so (30/11) is the real 110th  birthday of the Grandmaster of the locked room Mystery. John Dickson Carr. And to celebrate that, JJ from https://theinvisibleevent.wordpress.com/, invite a Carr fans or mystery fiction fans in general to submit something Carr-related. And I as a novice reader of Carr legacy, seems like fun to join the festivity. as the beginning for me, I usually start a series chronologically like in Sherlock Holmes, Poirot, and Ellery Queen but I make my exception not to choose “Hag’s Nook”(1933)  but prefer “The Case of The Constant Suicide”(1941).  though I just finished reading the day before (29/10) D-Day, because some  kind of busyness.

In a train heading to Glasgow , Alan Campbell meet in some kind of comedic way with His  along time Rival, Kathrin Campbell to find out they are related to the same Campbell family in Scotland, that related to uncertain cause of dead of Angus Campbell. After setting up a view of no suicide insurance policy, the body of Angus found in the bottom of the castle, seem that the old man Threw himself from the high tower from the wide open windows. The room is simply showing  indicate of the suicide, and there was something inside that room which is give a creepy Hocus-Pocus impression. An empty dog carrier box with  mysterious unknown content. After the appearance of Dr Fell who believed by the family to prove the entire problem in which  a suicide or not, another attempt of suicide from the same tower happen, and after that another dead body found inside locked in his cottage . Once again indicated as a suicide.

This is my first Carr book that I finished. My own problem is I’ve know the reputation of JDC before I read it, and make it more subjective standpoint to make a judgment. But I try not to do it so.  Not like my encounter with Master of Suspense Alfred Hitchcock, that I have no idea who the gentleman is but impressed by the opus. Same case with Queen. The content first, name after. So, I’m afraid to overrated Carr, but I prove I’m  wrong. Carr is that high.

The mystery element in this novel is really pointed out, the surround element of the cases, the motive and psychological attempt in suicidal  by Dr fell is good , well hinted and fit with it premise. i found The first trick (or the main trick) pretty decent. I myself ,figured the trick quite fast thanks to clear hint. But maybe it has some issue with trivial science knowledge that the reader must know before hand, a dodgy science. Lucky me, I know how it work by experience in another works. think by that, it Should have some clue or some more attention giving to reader, because a lot of reader(include me), don’t really like a solution hinge on specific knowledge or uncommon fact to most of people like sometime Conan or Kindaichi do. But this is an exceptional for me. The reason is maybe because I know those specific Knowledge.

The main puzzle for me in this novel, not the main trick which happen in the castle but the last dead body in a locked cottage. It has a better premise to think and of course slightly better solution based on that locked impossible situation, more convincing than the main trick , quite well pointing and hide the clue at the same time.
But i have a bit issue with the “whodunnit” factor. How the perpetrator known by dr fell  is not as good as gold. Carr use the plot device similar with Conan Doyle usually use in the past, but slightly week and a bit limp to gratified the whole plot even with a hint that can carry reader to that conclusion, but to bias to be interpret . Maybe it was the week part of this novel.

Frankly, at first I had a bit problem with Scottish accent( Elspat is ate up my time LOL). It is my first time read an accent write in the book, so need time to getting used to it, but when I getting used to translate it to something I understand, I tried to imitate the accent with my so-stereotype  Scottish, and it funny because I do it in loud voice in the middle of the night. I really like the joke in this novel. The running joke about “American and Angus” make me laugh more and more it appears. Maybe a lot of joke and gag is too slapstick and cliché if compere to now days, and sometime not that funny as it expected. But it a lot of fun and a sort of hook in this book.

It’s a good start for me ,I think. The trick not really  that strong but a good one . The character  and side story beside the main Mystery (love story of the relative in which end up legal?)  is fun to read.  not dragging at all.  enjoyable story  Not a perfect one and I know JDC have more better stuff than this . But as an introduce book it really hook me, and satisfied me . Pay my expectation in those big name. and I’m a fans now.

Selasa, 11 Oktober 2016

Chain of The Queen


Pure reasoning has it that when you have exhausted every possibility but
one in a given equation that one, no matter how impossible, no matter
how ridiculous it may seem in the postulation—must be the correct one”
Ellery Queen , (The Roman Hat Mystery ,1929)

Akhirnya bisa memuat posting-an Blog setelah waktu yang lama. Pengaruh malas pastinya. Tapi kali ini Karena akhirnya bisa menulis sesuatu mengenai  mystery fiction,  harus menulis tentang konten yang layak. Dan yang  dimaksud dengan layak disini adalah novel pertama yang ditulis oleh dua saudara sepupu Frederic Dannay dan Manfred Lee atau yang lebuh akrab dikenal dengan nom de plume sama seperti protagonist-nya Ellery Queen, The Roman Hat Mystery (1929)

Saya akan sedikit mengikuti cara menulis blogger favorit saya untuk memisahkan antara penulis dan karakter , Ellery untuk Karakter dan Queen untuk Penulis.

Di Indonesia sendiri, nama Ellery Queen mungkin sangat jarang didengar , kalah terkenal dibandingkan dengan Arthur Conan Doyle apalagi dengan Agatha Christie. Apakah karna tidak ada cetakan terjemahan Ellery yang dicetak di Indonesia? bukan karna itu sepertinya, Mungkin karna pengaruh cerita misteri di Indonesia mulai menurun kepopulerannya, karna berdasarkan riset pribadi , ternyata Ellery Queen pernah menjamah Indonesia melalui dua media. Pertama Buku Rocket (penerbit yang sudah tidak ada lagi) pernah merilis beberapa karya Ellery Queen di Indonesia misalnya Irama Neraka (double,double) di tuduh membunuh (Murderer is a fox)  dan the King is Dead bersamaan dengan kepopuleran Ian Fleming waktu itu. Kedua di TVRI , serial TV Ellery Queen yang hanya bertahan 1 musim di tanyangkan  beberapa kali.

Berdasarkan fakta itu, dua bersaudara ini lumayan dikenal di Negara kita walaupun untuk orang-orang angkatan 60an akhir atau 70an awal. Tapi sekarang sedikit yang bisa mengerti jika kita bicara mengenai Ellery Queen. Sedangkan pengaruh mereka terhadap cerita mystery sangat besar. Baik itu buku, radio show apalagi, tv dan pengaruhnya terhadap berbagai karya lainnya. Saya tidak akan membahas lebih luas lagi mengenai kedua bersaudara yang juga memiliki pen name Barnaby Ross ini, (mungkin nanti di post yang terpisah) tapi saya akan lebih mengerucut ke karya yang membuat dunia Mystery-Fiction mengenal mereka, The Roman Hat Mystery.

The Roman Hat Mystery adalah Novel yang di tulis pertama kali oleh Dannay dan Lee yang  untuk dimasukan dalam sebuah kompetisi menulis dan sebenarnya menang tapi karna ada sesuatu dan lain hal penyelengara membatalkannya dan memberikan hadiah kepada penulis lain. tapi beberapa waktu kemudian penyelenggara lomba tersebut bangkrut karna itu mereka memberikan pada penerbit lain dan menerbitkan buku ini dengan nama pena sama seperti pemeran utamanya , Ellery Queen.

Sesuai dengan judulnya, plot novel ini berkutat dan berkaitan erat dengan topi tapi bukan topi Romawi, Roman disini adalah Teater tempat seorang pengacara Monte Field menonton pertunjukan “gunshot” dan di interval kedua ditemukan tewas karna racun. Dan tanpa topi.  Nantinya investigasi ini akan berputar di bagaimana cara mereka menemukan topi dengan berbagai macam usaha dari para penyidik . Investigasi dalam kasus ini di pimpin oleh inspektur Richard Queen, seorang polisi paruh baya New York yang disegani para bawahannya, mencari petunjuk dimana seluruh Teater dengan ratusan penonton menjadi suspect dan  dengan petunjuk utama topi yang hilang diantara ratusan saksi.  Tapi dia tidak bekerja sendiri dia ditemani oleh bawahan-bawahan yang cekatan dan diberkati dengan seorang anak kandungnya yang adalah penulis dan penggila buku , Ellery Queen.

Yang menarik dari Novel pertama ini, adalah present atau kehadiran dari si master Detektif Ellery sangat sedikit , terlihat dia menjadi seperti bayangan dari bapaknya,bahkan Ellery tidak hadir di klimaks walaupun dialah yang memecahkan keseluruhan kasus ini. Awalnya terlihat seperti cerita dari Richard Queen dibanding Ellery. Karna dalam penyidikan kebanyakan di tangani dan kita mengikuti gerak-gerik dari inspektur Richard Queen untuk mencari lokasi topi yang hilang, mengiterogasi saksi, mengerakan sekian banyak polisi.dan DA (penuntut umum ), juga interaksi dengan sekian banyak orang. Sedangkan anaknya yang sebenarnya adalah protagonist utama di cerita ini, bergerak dalam bayang-bayang walaupun akhirnya dia pulalah  yang memecahkan kasus dengan rangkaian deduksi yang brilian. Aku semat terpikir awalnya apakah Ellery hanya merupakan delusi dari pemikiran Richard Queen dan bukan sebuah entitas manusia yang nyata. Tapi beruntungnya , Ell mendapatkan tempat yang lebih layak di cerita-cerita selanjutnya sebutnya sequel Novel ini French Powder Mystery. Ellery lebih terlihat seperti detektif yang semestinya.

Aku juga sempat membaca bahwa Queen memiliki fetish akan objek. Dan jika demikian itu menjelaskan banyak hal. Pencarian besar-besaran terhadap sebuah objek kemudian menjadi semacam troupe bagi novel-novel Ellery Queen selanjutnya . didunianya Queen, orang-orang suka menyembunyikan objek dan para investigator sangat suka mencarinya.

Dalam novel ini banyak sekali karakter yang diperkenalkan baik itu saksi, tersangka bahakan beberapa karakter pendukung lain juga para anggota polisi. Untung saja di halaman awal Queen menulis daftar nama karakter juga lengkap dengan denah teater yang sangat membantu untuk memecahkan kasus ini.

 Nah yang sangat menarik dari novel ini adalah ke-fairplay-an plot, karna kita tahu Queen sangat terpengaruh dengan S.S Van dine dimana Fairplay adalah faktor penting dalam fiksi misteri . itu yang rancang dengan bagus di cerita ini. di sepanjang cerita kita seperti hanya mengikuti police procedural pencarian topi, tapi petunjuk penting bertebaran (tapi tak sebaik novel Queen yang lain)  dan itu sangat berpengaruh jika ingin untuk memecahkan kasus dengan kemampuan kita sendiri dan yang terpenting adalah rangkaian deduksi ala Queen diperkenalkan di Novel ini, dimana elimination method of deduction menjadi kewajiban dan menjadi point utamanya, sebut saja seperti ini. Pelaku memiliki karakteristik X, Y dan Z dan setelah kita deduksi selain karakter A dan hanya karakter A yang memiliki ciri-ciri seperti itu, maka dialah pelakunya . tapi semua tak semudah itu , karna rangkaian deduksi di novel ini lumayan komplek untuk dengan mudah dipecahkan tapi semua akan mengerucut ke hanya satu karakter saja jika mengunakan deduksi dengan benar.


Tapi bagi saya , daya tarik utama di novel ini tidak lain dan tidak bukan adalah Challenge to the reader. Saya sangat senang saat sebuah novel berhenti di tengah-tengah hanya untuk “stop! Semua petunjuk telah tersedia, saatnya untuk memikirkan semuanya”. Dan ini sangat unik. Kita bisa melihat banyak yang melakukan hal yang sama, apalagi jika mengambil contoh di Jepang, Karena disana , Ellery Queen sangat dipuja bahkan sampai sekarang. Sebut saja para penggerak Shin-Honkkaku (new Golden Age Mystery) di jepang, Shoji Shimada di debutnya “Tokyo Zodiac Murder” memasukan bahkan dua Challenge to the reader, kemudian ada Alice Arisugawa dan Norizuki Rintarou (dua-duanya bisa dikatakan Ellery Queen-nya jepang ). Bukan hanya itu bisa dilihat juga di manga Conan, Q.E.D , DDS dan Kindaichi(karna mereka sangat terpengaruh oleh  Queen) walau tidak begitu explicit tapi saat mereka mengatakan “semua misteri telah terpecahkan ” konten Challenge to the reader ini ada .

Secara keseluruhan Novel ini adalah novel yang menarik berisikan konten misteri yang mumpuni, memberi contoh pengunaan chain deduction yang keren yang dan  sekarang sulit di temukan di novel misteri era ini,  walau karakter diluar Inspektur Queen terkesan Bland, tapi tidak masalah karna Queen memperbaikinya  di novel selanjutnya. Bukan novel Queen terbaik tentu saja tapi tetap menarik untuk dibaca, karna saat pembaca ditantang oleh penulis itulah saat terbaik untuk melawan balik . entah apa maksudnya. Ini juga merupakan Novel Ellery Queen yang pertama bagi saya.

Sabtu, 23 Juli 2016

All about similarity

"To create something exceptional, your mindset must be
 relentlessly focused on the smallest detail."
Giogio Armani
saya baru tahu, mungkin karena kurangnya referensi, bahwa ternyata film "Children Of Man" adalah adaptasi dari novel P.D James,  kirain itu adalah dua judul yang sama dengan cerita yang berbeda tapi saat membaca paragraf pertama novelnya, ok... this is kinda familiar, or i'm just too idiot not to realize it. 

kali ini saya akan memposting cerita pendek yang saya tulis waktu sedang menunggu tugas dari siswa-siswi di kelas, dan di selesaikan di perpustakaan sekolah ... 

Perhatikan Detil
Oleh Glint Lintjewas

Detil . Harus memerhatikan detil. Semua pergerakan yang ku persiapkan ini harus berdasarkan pada evaluasi mendalam . semua tindakan yang ada harus dikalkulasi dengan tepat . ini bukan perkara mudah dan ini bukan masalah sepele. Ini sesuatu yang krusial karna berkaitan erat antara hidup dan mati.
 Tak pernah aku yang hanya seorang pria kecil lemah yang hidup dengan normal menurut standar sosial masyarakat urban jaman ini melakukan hal yang luar biasa sama sekali. Aku tak pernah meraih apa-apa yang begitu mengejutkan dalam hidup. Hidup berjalan sebagaimana dia berjalan . Namun tanpa kejutan . Hidup ini terlalu datar untuk diceritakan. Aku seorang pegawai perusahaan yang setiap harinya bangun pagi pukul 6 , sarapan normal , mengecup kening istriku dan pergi ke kantor, beralih dari satu dunia yang datar ke dunia datar lainnya hanya saja lebih menyebalkan. 
Semua berjalan begitu lancar dalam hidupku. Pendidikan terselesaikan dengan baik dan cepat tanpa perlu berlama-lama dibangku pendidikan yang membosankan itu. Setelah lulus dengan nilai yang membanggakan orang tuaku tapi tidak bagiku, ternyata pekerjaan mudah didapatkan tidak seperti mitos yang kudengar di tahun-tahun akhir kuliahku. Klasik penyebabnya kenalan ayahku yang membuat aku bisa langsung bekerja. Dan bukan hanya bekerja disalah satu perusahaan terkenal di Negara ini saja, tapi aku mendapat bonus istri.
 Sophy,  Anak dari bosku yang tertarik denganku katanya. Ya, perawakan ku yang tidak terlalu besar dan pendiam  menurutku menjadi akar penyebabnya . Mungkin itu yang membuat istriku tertarik, bukan sekedar itu tapi karna aku yang menjadi pengawai terbaik 6 bulan berturut-turut  dan menjadi anak kesayangan bos ku alias menantuku. Aku seakan bukan menikah dengan anaknya tapi menjadi aset ayah nya. Tapi aku tidak bisa menolak. Siapa yang mau menolak wanita cantik dan mapan seperti istriku. Tinggi berambut pendek sebahu dengan wajah manis yang selalu menarik dengan senyuman indah digaris wajahnya.
waktu kami memang diawali dengan indah . Semua kelihatan menyenangkan . Mempunyai istri yang cantik, kehidupan finansial yang meyakinkan dan terlebih lagi perhatian istriku yang begitu besar untuk ku. Bahkan dia belum berencana untuk memiliki anak dengan alasan agar perhatiannya hanya tertuju padaku. Semua berjalan dengan begitu lancar dan normal . Hidup yang  bahagia, sekali lagi menurut standar social manapun mulai kami rintis.
 Tinggal di sebuah perumahan di daerah pinggiran kota menjadi langkah awalnya. Perumahan.heeh… Kompleks manusia membosankan yang  memiliki dua persamaan besar, orang-orang yang tak saling  peduli yang tinggal dalam bentuk rumah yang sama. Rumah-rumah disini memang terlihat sama persis. Tapi tak mengapa begitulah ciri khas perumahan . Melompat dari ruang membosankan satu ke ruang membosankan lainya. Aku terbiasa untuk itu.bukan sesuatu yang menarik. Semua memang berjalan lancar sekaligus membosankan sampai Florena menempati rumah disebelah rumah kami.
 Entah apa yang membuat wanita ini spesial  . Terlalu banyak alasan untuk menjelaskan kenapa. Mungkin perjumpaan pertama  saat si wanita ini datang  menghantarkan makanan sebagai tanda perkenalan. Tatapan mata itu tak pernah  hilang dari ingatanku terlebih saat dia malu-malu berkenalan didepan pintu rumah . Aku yang selalu menganggap tak ada yang bisa membuat aku tercengang kini menganggap teori ini salah besar. Dia adalah wanita yang membuatku jatuh cinta sesederhana  itu
.  Aku tercengang oleh wanita ini. Kami bercakap – cakap tanpa batas. Berjam-jam kami bercerita walau itu pun tidak bisa membuatku tahu penyebab dia akhirnya pindah di samping rumah kami. Ada masalah besar yang menarik wanita elagan yang memang terlihat sangat tidak cocok dengan situasi kompleks ini. Ini bukan daerah dimana dia seharusnya berada. Dia seharusnya berkumpul dengan para wanita glamor di sebuah bar mewah , makan malam di restoran berbintang dengan hidangan prancis yang terlalu mahal untuk ukuranya sendiri, dan tinggal dengan konglomerat di kondominium mewah yang menghadap ke pantai. Itulah tempat idealnya menurutku. 
Waktu membuat kami akrab . aku tak pernah seakarab ini dengan makhluk yang disebut manusia sebelumnya. Dia membuat aku yakin dialah yang sebenarnya harus bersamaku . dialah sebenarnya yang membuatkan aku kopi di pagi hari , dialah yang sebenarnya menginggatkan ku untuk berhenti mengunakan tangan kiri untuk menyantap makanan. Dialah yang seharusnya dan dialah yang semestinya. 
Aku kasihan pada istriku tapi beginilah aku Dan kenyataan yang datang bersamaku . Akupun mengatur untuk sift sore di kantor dengan satu alasan sederhana. Supaya siangnya aku bisa menjalani hidupku yang sebagaimana seharusnya bersama Flor, bunga hidupku. Begitu ku mengodanya. Tapi itu tak pernah cukup , malamnya lagi aku kembali ke kehidupan yang sama lagi 
  Terang saja kami menjadi terlalu akrab untuk disebut tetangga. Semua yang kami lakukan terlalu intim untuk dianggap permainan belaka. Aku sadar ini salah tapi aku betul-betul sadar bahwa inilah yang aku inginkan dalam hidup. Bersama dengan wanita ini hingga maut merajam . dia telah memiliki hatiku sepenuhnya dan seutuhnya.
  Hingga akupun memutuskan untuk menikahinya . tapi Flor selalu menanyakan tentang istriku. Aku akan menceraikannya itu mudah hanya urusan kertas dan pena. Tapi dia meyakinkanku bahwa itu tidak pernah cukup. Alasanya masuk akal. Jika kami cerai maka aku harus mengatur harta gono – gini, memberikan tanggungan bulanan dan yang lebih menyedikan lagi hilanganya pekerjaan secara permanen. Hanya akan membuat semuanya menjadi lebih sulit. Tapi bagaiman kalau aku membunuhnya saja? Kan beres.
  Kami setuju dan aku mulai merancang rencana dengan detil setiap bagian rencana jahat ini terkalkulasi matang bahkan di atas kertas, tak bercela. Dan setelah mempertimbangkan segala kemungkinan yang bisa terjadi, inilah saatnya. Hari inilah dimana aku akan mengeksekusi istriku sendiri dengan kehidupan sesungguhnya yang menanti setelahnya. Ini sebagai pertanda untuk membuka hidup yang baru dengan membunuh bagian hidup yang lama. Bagian terpenting dari rencana ini harus terlaksana. 16 kali rencana ini gagal karna aku salah memperhitungkan waktu dimana pos satpam di kompleks kami kosong. 
Tapi setan itu berpihak pada sekarang. Pos satpam kosong tanpa penjaga. Itu yang menjadi petunjuk menjalankan misi ini. Ku lewati pos itu dengan santainya . Memutar ke jalan belakang agar tidak melewati pangkalan ojek kompleksku. ku ambil sarung tangan hitam yang selalu berada di dalam tasku 17 hari terakhir ini bersama topeng hitam dan kaos oblong tua berwarna hitam juga dan tak lupa pisau sebagai pemeran pembantu terbaik dalam lakon ini. Semua persiapan telah siap. 
Dengan perlahan-lahan aku melangkah ke pintu rumahku . Pintunya ku buka perlahan dengan kunci ditangan  tanpa suara. Langkahku pasti walaupun kegelapan mengelilingi, tapi ini rumahku aku tahu arah ke kamar bahkan dengan menutup mata. Dan gelap malam tak segelap menutup mata. Pintu kamar terbuka dan memang selalu begitu . seorang wanita tertidur pulas di kegelapan kamar . istriku . ah kasian sekali engkau terjebak dengan lelaki sepertiku. Tapi saat melihatnya lagi, aku seakan mengurungkan niatku. Tak bisa. 
Aku tak pernah membunuh sebelumnya. Tak mungkin aku akan membunuh wanita yang mencintaiku. Akupun terduduk berpikir sejenak. Keheningan malam menekanku begitu eratnya dan seakan bisikan gelap itu penuh keotak. Aku di persimpangan dan keputusan terberat dalam hidupku harus kuputusakan dalam hitungan detik. Baiklah ini sulit, aku tak bisa. Aku harus berbalik dan memasang lampu kamar. 
Tapi ingatan tentang flor mengubahku. Dengan cepat pisau ditangan tertusuk berulang-ulang ke istriku bahkan saking cepatnya dia tidak terjaga sedikitpun sebelum meninggal. Gila! aku membunuh seseorang dan itu istriku . Ternyata batas antara hidup dan mati setipis itu. Sepersekian detik maut menjemput hidup.
 Aku harus tetap tenang, bagian tersulit dari rencana telah dilaksanakan. Dan kebahagian besar sedang menanti diseberang pintu. Aku keluar dari kamar dan menghancurkan gagang pintu , melempar kaca depan dengan batu dan berlari cepat ke arah belakang. Berjalan perlahan dalam gelap malam, langkahku sengaja untuk membuat orang terbangun dari lelap mereka.
 Bangunlah kalian para orang bodoh. Olok-olokilah aku tanpaku peduli , Perhatikan aku , jadi saksi untuku. Saksi kemenanganku . lihatlah si pencuri palsu ini. Tapi jangan dengan seksama. Yang ku tujuh adalah tempat sampah terdekat di kompleks ini membuang semua yang bisa memberatkan situasi. Kaos tangan , topeng, pisau , termasuk kunci rumah flor yang ada padaku demi sebuah detil yang harus diutamakan . Aku tidak mau saat diperiksa oleh polisi nanti kunci ini tetap besarang di saku ku. Itu terlalu bodoh .
 Aku harus mencari seseorang yang akan bersama dengan ku saat mayat ditemukan. Bagaimana dengan Recky ojek langananku. Sebenarnya itu bagian dari rencanaku. Aku kembali memutar dalam kegelapan untuk bisa muncul kembali di dekat pangkalan ojek . tempat yang tadi tak kulewati. 
“selamat malam Rob, selalu tepat waktu untuk pulang rumah” kata Recky . jawaban yang selalu kuinginkan . 
“untuk istriku, kau tahu… hei Recky! kau ingat tentang video Smackdown yang aku janjikan untuk kau pinjam?” jawabku sedetil mungkin sesuai dengan rencana.
“ia.ia... video tentang The Rock saat dia bersatu dengan Mankind kan? Rock and Sock Connection?”jawab Recky girang
“temanku telah mengembalikannya , sekarang mau mengambilnya dirumahku?”tetap tenang.
“pastinya … ayo naik tuan penumpang” kata Recky dengan wajah  senang. Terlalu senang.
Motor diparkir di pinggir jalan depan rumahku. Aku berjalan perlahan kearah pintu diikuti Recky yang baru saja mematikan motornya. Inilah penentuannya . Aku mengambil kunci disaku dan memasukannya ke lubang kunci…
 Tidak berputar? Kenapa? Kuncinya salah ? coba lagi… Saat dicoba untuk ketiga kalinya , pintunyapun terbuka. tapi bukan aku yang membukanya. Pintu terbuka dari dalam dan istriku menatapku dengan senyuman. Senyum terngeri yang pernah mataku tatap. 
“Akhirnya kau pulang sayang. Aku takut sekali . Tau ngak di sebelah katanya terjadi perampokan. Aku terbangun karna bunyi kaca pecah . Kasian sekali tetangga baru kita sayang. Mereka bilang dia meninggal di tikam. aku takut sekali … itu bisa terjadi padaku loh…”


Selasa, 05 Juli 2016

The Hawk,Dove and Raven

“Dead men are heavier than broken hearts.” Raymond ChandlerThe Big Sleep

Dalam rangka mengisi liburan seminggu karena lebaran , saya berencana untuk membaca kira-kira 3 buku atau lebih untuk diselesaikan dalam seminggu ini  rencananya semuanya novel Misteri kecuali mungkin Metamorphosis-nya Kafka yang sudah 50% . dari beberapa buku yang sementara dibaca,buku  pertama yang  selesai adalah buku dari Sidik Nugroho, Tewasnya Gagak Hitam.

Seorang pengarang ditemukan tewas di sebuah kamar kost yang baru beberapa hari ditempatinya di Singkawang , tanpa barang-barang pribadi yang banyak, hanya barang Default dari kamar kos tersebut. Gantung diri adalah penyebab kematiannya dan bunuh diri itu yang diyakini oleh para penyidik , tapi tidak dengan Elang Bayu Angkasa , seorang  pelukis freelance yang penasaran mengenai berita ini di koran yang dibacanya di sebuah warung kopi dan tak habis pikir , kenapa harus seorang pengarang? Tapi kenapa tidak? Dari rasa penasaran nya itu akhirnya Elang bisa terlibat dalam penyelidikan kematian si pengarang, bukan karena kemampuan deduksi nya sekelas Sherlock, atau memiliki ayah seorang polisi seperti Ellery , atau mempunyai Photographic Memory seperti Megumi, tapi karena dia adalah seorang pelukis yang menghubungi seorang polisi yang dikenalnya lewat facebook (?). Akhirnya untuk mengungkap misteri kematian gagak hitam ini, Elang harus terbang jauh dari Pontianak , Singkawang ke ibukota Jakarta, penyebabnya seorang dokter wanita  meninggal gantung diri di Jakarta dengan tulisan “Merpati Putih Menyusulmu”. 
tewasnya-gagak-hitam
Elang yang merupakan tokoh utama disini, digambarkan sebagai seorang pelukis  rupawan , easy-going, pandai mengoda wanita, dan antara lumayan-dan-buruk dalam  berdusta namun selalu yakin kalau dia adalah pendusta yang handal.  Elang selalu percaya kemampuan social-Engineering-nya berada diatas rata-rata, beradasarkan pada apa yang diterapkannya pada orang kurang waras (?) yang akhirnya menjadi blunder dalam penyamarannya.  Dan satu lagi yang sangat mencolok dari elang seorang mata keranjang dengan pikiran bejat . karena hampir setiap kali Elang melihat wanita cantik, Elang berubah bagai Elang yang siap menyantap mangsanya. Mungkin pengaruh kesepian yang butuh belayan. 

Saya pribadi tidak terlalu ingin membahas buku secara karakter.sebagai penggemar misteri , saya lebih menyukai membahas plot , hint, trick  dan sebagainya. Tapi saya mungkin sedikit  membahas tetang elang. yang menjadi kurang menarik disini , pembaca dibawah untuk ikut petualangan elang sebagai karakter utama. namun karakter elang ini one dimensional.  walaupun ada beberapa back story mengenai percaraian, kesepian namun kurang dalam dan terasa mengambang dalam segi pengambaran perasaan Elang mengenai apa yang harus dirasakan , dilemma yang sebenarnya harus di alami. Elang terlihat kurang pertimbangan dan sedikit serampangan dalam pengambilan keputusan.  
Mungkin tipe karakter seperti ini bisa di kaitkan dengan beberapa karakter novel hard-boiled  classic misalnya Phillip Marlow-nya Raymond Chandler atau ‘the Thin man’  nya Dashiell Hammet dengan kesan dark realistic . Namun Elang tak sedalam karakter-karakter itu. Bahkan jujur saja , karakter elang tidak terlalu menonjol di novel pertama . Elang tidak menunjukan kelebihan yang dimilikinya dibanding karakter lainnya. Hanya dikatakan elang memperhatikan detil tapi yang terlihat, malah elang serampangan dan mempergunakan kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya yang merupakan kelemahan dalam  memperhatikan detil  ironisnya Elang tidak bisa membuat alibi yang cukup bisa dipercaya bagi seorang yang dikatakan memperhatikan detil.  yang membuat Elang sedikit terlihat seperti karakter utama adalah karna entah kenapa Elang selalu mendapat dukungan dari orang-orang sekitarnya yang posisinya bisa saja diganti oleh seorang polisi biasa karna hal yang dilakukan elang termasuk yang mendasar bagi seorang polisi dalam menyidik .yang membuat pembaca bertanya , semudah itukah orang-orang awam bisa terlibat dalam pengungkapan kasus criminal ? apalagi bukti kasus  yang dengan mudahnya dibawah Elang ke hotelnya ? kenapa bisa demikian? 

Secara plot cerita misteri ,tidak mengigit.  sungguh tidak sesuai dengan harapan. Saat melihat sampul cerita yang sangat menarik ini, saya langsung beranggapan inilah cerita yang saya tunggu untuk saya baca. Premis yang meyakinkan, dua orang yang  bunuh diri tapi mungkin bukan bunuh diri dan mungkin berkaitan . anggapan awal saya mungkin ini akan menjadi novel yang mirip dengan logical Chain S.S van Dine,Ellery Queen atau Arisugawa Alice mungkin saja pembunuhan berantai seperti Messiah-nya Boris Starling dengan Alibi waktu, trick pembunuhan megah seperi soji Shimada atau mungkin Locked Room Mystery seperti John Dickson Carr atau Yukito Ayatsuji,  tapi sayangnya ini bukan tipe misteri yang saya senangi . not my cup of tea. Sebagai pencinta misteri yang fair-play, buku ini tidak memberikan apapun bagi saya . Tidak ada petunjuk yang mengarah kepada pelakunya, semua hal di TKP hanya merupakan detil perkara . semua terjawab tanpa perlu adanya pemikiran mendalam dari para pembaca. penulis pun tidak memberikan clue bagi pembaca untuk mengetahui siapa pelaku. Rasa penasaran diawal saya mulai habis di tengah novel  karna bahkan sebelum setengah dari novel, saya telah bisa menebak (karna tanpa mengunakan petunjuk pasti), siapa pelakunya karna tidak mungkin bukan dia . Dan bagian akhir dari novel ini tinggal cerita petualangan yang menegangkan untuk menjebak si pelaku lebih seperti bagian klimaks sebuah film action. Sehingga penjelasan diakhir terasa kurang menarik , karna seakan –akan muncul entah dari mana tanpa petunjuk yang ditanamkan sebelumnya .hanya menyisakan “oh … ok ” diakhir dibanding ”ahhh… ternyata seperti itu, kenapa tak terpikirkan ”saat membaca novel yang fair-play misalnya bab terakhir The Roman hat Mystery-nya Ellery Queen.  

Mungkin penulis memang berusaha untuk membuat cerita Thiller atau fiksi criminal  yang menegangkan bagi pembaca dan mengabaikan elemen misteri dari cerita. jika begitu penulis cukup berhasil membawa ketegangan dalam alur cerita novel ini .  secara keseluruhan walaupun beberapa hal yang menganjal secara pribadi  cerita novel ini cukup menarik , gaya penyampaian baik dan membuat pembaca ingin meneruskan membaca petualangan si Elang, baik petualangannya mencari petunjuk (karna memang bukan Elang yang mengunkap kasus) dan petualangan Elang dalam memikat wanita. Penulis juga memberikan tempat untuk  sekuel di akhir cerita dan semoga sekuelnya (Neraka diwarung Kopi)bisa lebih menarik dari cerita pembuka petualangan Elang ini.

Sabtu, 02 Juli 2016

Risk in Partnership

“If you disperse energy in speech, it doesn't leave you too much over for action.” 



Setelah memakan waktu seminggu untuk menyelesaikan membaca buku kedua dari kasus-kasus pelacakan Daud Hakim dan Trista, walaupun sedikit terhambat oleh beberapa kesibukan lainya, akhirnya saya akan menulis resensi dari buku kedua dari koleksi kasus inspektur polisi Daud Hakim dan pacarnya A.K.A anak dari atasan nya Trista.

Dibuku yang pertama, para pembaca dibawah bertualang dalam dunia pelacakannya daud hakim yang dibantu oleh pacarnya , seorang contributor majalah TREND yang pindah dari Jakarta ke Surabaya untuk bisa bersama dengan orang tuanya dan secara tidak langsung bersama dengan pacarnya.
Sangat sulit bagai saya untuk tidak membandingkan buku yang kedua ini dengan buku yang pertama. Karena jarak waktu saat membaca kedua buku ini cukup dekat. Mungkin bila saya membaca buku ini disaat terbit untuk pertama kalinya, (kedua buku ini dulunya terbit dalam 5 seri), maka perbandingan yang akan saya lakukan mungkin juga berbeda. Tapi mari kita melihat dalam konteks dua buku ini sebagai kesatuan dan secara terpisah.

Di buku yang kedua ini, masih tetap berkutat tentang penyelidikan yang dilakukan seorang polisi muda baik itu kasus yang biasa saja, maksudnya tanpa ada korban yang meninggal atau pun sampai ke kasus yang lebih berat lagi yaitu pembunuhan berantai.
Di kasus awal Matinya seorang Pelajar, daud hakim diperhadapkan pada kematian seorang siswa penjaga perpustakaan yang tiba-tiba menghilang dan kemudian keesokan harinya di temukan tewas di sebuah selokan. Untuk kasus yang mengawali buku ini, saya merasa cukup familiar dengan setting ceritanya karena saat membaca cerita ini, saya bertepatan berada di perpustakaan sekolah dengan begitu, imajinasi konteks cerita begitu mudah. Walaupun inti misteri dari cerita ini terlalu mudah dan kurang menggigit.

Dalam Misteri Matinya Seorang Mitra, kasus ini di awali dengan penggambaran tentang dua orang mitra yang bukan disatukan karena bisnis, tapi di satukan oleh nasib yang sama. Membuat Tarida dan Okra bersatu untuk mendirikan usaha bersama, tapi itu berakhir karena faktor yang sangat klasik yaitu kecemburuan . kecemburuan yang membawa salah satu diantara meninggal . trik alibi waktu , dengan tersangka utamanya memiliki alibi sempurna. Tapi sayangnya kisah ini bukan berakhir dengan Alibi Crack-ing tapi mencari siapa sebenarnya yang bohong .

Sama halnya dengan beberapa kasus lainnya, ada beberapa premise yang pada dasarnya bagus dengan mimic yang cukup untuk menjadi sebuah setting cerita misteri yang mumpuni seperti pada jamuan yang terakhir bagaimana tidak ini mengingatkan kita pada setting-an misteri zaman Golden age yang klasik. Hari Lotar yang adalah pimpinan sebuah perusahaan meninggal karna racun sianida didepan ratusan koleganya yang menjadi saksi mata dalam sebuah jamuan makan. Dengan premis yang lumayan meyakinkan ,Closed –Circle dan  Poisoning Trick Murder, tapi  sayangnya kurang di segi trik yang digunakan . bahkan saya sempat mencoba memikirkan trik lain yang setidaknya cukup membuat kasus ini menjadi highlight dari keseluruhan buku, tapi sayangnya bukan saya penulisnya (mungkin akan saya buat dengan versi saya sendiri , hahhaha).

Pembunuhan dikamar 314, trik klasik dengan premise kembar sangat mudah namun cukup menarik . Ada juga kasus Pembunuhan gadis-gadis berambut panjang  dengan mendengar judulnya saja, kita bisa mengetahui bahwa ini merupakan sebuah kasus pembunuhan berantai. Dua orang siswa berambut panjang , dibunuh dan diperkosa dengan cara yang sama,  kemudian mayatnya dibuang  ditempat yang berdekatan. Cerita yang lumayan dari segi misteri dan penalaran yang harus digunakan untuk mencari tahu pelakunya, walaupun masih terlalu  mudah namun cocok untuk setting cerita.

Dalam Matinya seorang gay  sekali lagi premise yang bagus namun trik dan unsur Fair-Playnya kurang. Seorang laki-laki yang diduga penyuka sesama jenis , meninggal  dan diduga bunuh diri meloncat dari lantai 7. Namun semua dugaan ini sirna setelah seorang saksi melihat bahwa korban tidak berdiri sendiri sesaat sebelum jatuh . cerita ini sedikit banyak hanya berakhir di cara menjebak pelaku .
Secara keseluruhan, di buku kedua ini jujur saja kurang di segi misteri nya dibanding dengan buku yang pertama . namun  S Mara Gd di buku kedua ini terlihat ingin untuk pembaca nya lebih memperhatikan para karakter utama, baik interaksi  antara Daud hakim dengan trista , dimana mereka berdua semakin ekstrim dalam hal mencoba untuk melibatkan diri dalam bahaya tanpa memperhatikan resiko . walaupun mungkin saja mereka dalam hal ini Daud Hakim mempergunakan wewenang nya sebagai penegak hukum dan membawa backup dalam penangkapan , tapi dengan berani nya dia berusaha melakukannya sendiri.

Yang menjadi pembeda antara buku yang pertama dan kedua ini, kalau dibuku pertama, ceritanya bisa dibilang Cozy Mystery dimana keadaan yang nyaman  berubah menjadi buruk saat pembunuhan atau kasus criminal terjadi dan berubah menjadi bahagia kembali setelah kasusnya terpecahkan misalnya Ngao Marsh , Dorothy L Sawyer atau pun Agatha Christie , untuk nama terakhir, S Mara Gd pernah menjadi penerjemahnya. Tapi tidak di instalment kedua ini. Kelihatan S Mara Gd ingin mengeksplorasi perasaan pembaca untuk turut prihatin saat Sleuthnya dalam masalah . unsur Suspense dan Thriller di setiap akhir cerita semakin di tingkatkan . hampir semua kasus berakhir dengan Daud Hakim ataupun Trista dalam masalah yang sedikit banyak karna kemauan mereka sendiri.

Perbadingan atau bisa dikatakan perkembangan dari buku pertama ke buku kedua ini , selalu dibuka dengan konteks para pe lakon dan susunan pelaku dengan keadaan sosial masing-masing, sebuah awal yang cukup mirip dengan pembukaan Columbo atau Furuhata Ninzaburou, tapi bukan merupakan Inverted Mystery.  sayangnya perkembangan ini mengarah pada sisi yang saya secara pribadi kurang sukai. Karna disini Police Procedural  lebih ditekankan dengan unsur Thriller dan Suspense di setiap akhir cerita dari pada Whodunnit dan Fair-Play Mystery dengan trik dan alibi yang mencengangkan para pecinta misteri nya

Buku kedua ini lumayan di segi setting cerita yang lumayan beragam , karakterisasi yang mulai ditingkatkan namun bukan sebagi fokus utama , buku kedua yang cukup untuk para pengemar S Mara Gd namun masih kurang mengigit di sisi misterinya secara keseluruhan. 

Jumat, 29 April 2016

Pair In Crime


"It is as well, mon ami, that we have no affairs of moment on hand. We can devote ourselves
wholly to the present investigation."
Hercule Poirot Investigates(1924)

Jika orang tahun 80 di Tanya mengenai siapa penulis misteri terbaik di Indonesia, pasti jawabannya akan mengerucut kedua nama besat yaitu V. Lestari dan S.Mara Gd. Diantara orang-orang jaman itu dimana keberadaan novel-novel begitu marak , kita sebut saja lupus karya hilman yang sedang hangat-hangatnya bahkan ada beberapa sumber yang bisa menyebut “wah novel lupus sama Mara Gd dulu pas keluar kayak beli gorengan orang-orang ngantrinya”.

Berbicara mengenai S Mara Gd , tidak akan pernah lepas dengan keberadaan novel-novel misterinya yang ringan (cozy mystery) . Dengan setingan keluarga –keluarga Indonesia dengan berbagai dilemma dan  masalah yang bisa berujung pada tindakan-tindakan criminal.

Waktu lalu saat sedang berada di perpustakaan sekolah , saya dipertemukan dengan salah satu buku dari S Mara Gd yang tak pernah saya ketahui sebelumnya. Karna yang saya tahu S Mara Gd ini hanya terkenal berkat cerita duo kosasi dan gozali . tapi tenyata selain membuat cerita petualangan  antara polisi yang menjadi ‘asisten’ detektif amatir gozali yang berformat full-leght novel , S Mara Gd juga merambah ke cerita pendek bukan dengan para pelakon yang sama, tapi dengan duo yang berbeda , Daud Hakim dan Trista dalam Kasus-kasus pelacakan Daud Hakim dan Trista.

Daud Hakim adalah seorang letnan polisi yang mempunyai pacar Trista yang adalah anak dari atasannya di kesatuan polisi(kurang klise apa coba). Selain sebagai anak dari polisi dan pacar dari seorang polisi juga , Trista mempunyai kegiatan yang tidak berkaitan dengan polisi yaitu sebagai korensponden majalah TREND .Trista dulunya tinggal di Jakarta , dan akhirnya kembali ke Surabaya untuk memenuhi tugasnya sebagai anak tunggal dan pacar tunggal(?).

Antologi ini tidak dimulai dengan bagaimana sampai kedua duo ini bergabung , tapi langsung bagaimana pasangan yang memiliki ‘kerinduan’ yang sama di bidang kriminalitas ini diperhadapkan dengan kasus-kasus, yang satu ingin mengungkap kasus dan yang lain ingin memuat kasus tersebut ke majalah . antologi berisi delapan belas kasus di mulai dengan kasus pertama tentang surat ancamanTiga lembar surat kaleng dimana para pembaca diperkenalkan dengan para  tokoh  utama dan bagaimana mereka menyelesaikan kasus ancaman tersebut dengan bekerja sama .tentu saja.

Dalam kumpulan cerita ini, S Mara Gd hampir selalu memulai dengan membuka seting keadan baik itu di sebuah rumah perusahaan atau  lingkungan hidup tertentu  misalnya dalam kasus Misteri matinya seekor kupu-kupu  yang mengambil seting di gang doly. S Mara Gd tidak begitu detil menjelaskan gang doly ini , tapi pengunaan kata yang sederhana bisa membuat pembaca yang belum pernah kesana bisa  mengambarkan keadaan lokasi walaupun terkesan sempit untuk lebih menekankan pada kasus itu sendiri.

Ada berbagai jenis kasus dalam buku ini. Ada pengancaman, penculikan bahkan sampai pembunuhan yang kejam. Dari delapan belas kasus yang disediakan bagian pertama ini, tidak banyak kasus yang betul-betul menarik perhatian jika dilihat dari sisi trick atau alibi yang dibuat para pelaku .  bahkan sayang ada beberapa kasus yang bahkan tidak bisa dikatakan Fair-play untuk ukuran certia misteri tapi bertitik berat pada aspek moral yang bisa menjadi motif sehingga si pembunuh yang tidak diduga bisa melakukan pembunuhan.

 Tapi ada satu kasus yang bisa dinikmati oleh mereka yang menyukai Fair-play Mystery dalam cerita sebagai hidangan utamanya. Kasus kedua yang menurut saya paling menonjol . misteri Mayat tanpa hidup. Kasus yang berseting lokasi di motel ini memiliki apa yang disebut kelayakan untuk kelas misteri yang bagus , ada trick tertentu , alibi cracking juga red-herring yang memadai, yang pada awalnya saya sempat berpikir mungkin ini lebih menarik jika ditambah dengan Kasus ruangan tertutup yang sama sekali bukan cup of tea nya S Mara Gd.

Ada juga kasus yang memiliki nuasa Queen-ish dalam misteri empat butir manga   yang memerlukan deduksi seperti Ellery Queen walau terlalu mudah untuk di ikuti .setidaknya mengunakan nalar untuk mengeliminasi kemungkinan . Namun ada beberpa kasus yang lebih menekankan pada usaha dari kedua tokoh  utama untuk melacak pelaku dan terkesan sedikit police procedural dan kuranya konten misteri didalamnya yang membuat pembaca tak diberi kesempatan untuk mencernah tapi menanti akhir dengan petunjuk yang hanya di ketahui oleh Daud Hakim .

Yang menarik di sini adalah berberapa tokoh yang mengunakan nama dan Marga manado. Saya sebagai orang manado seakan merasa lucu saat nama-nama marga itu muncul disini . ada  Oli Warouw , umbas dan Kaunang. Mungkin saja di Surabaya , S Mara Gd banyak bercenkrama dengan orang-orang manado disana. Atau S Mara Gd ini masih ada keturunan manado, di mana pendapat pertama lebih relevan karna S Mara Gd salah konsep dalam penamaan keluarga . karna marga Manado tidak akan berubah mengikuti marga dari suaminya(mungkin juga untuk membuat pembaca tidak terlalu bingun dengan begitu banyak nama marga dalam satu cerrtia).

Secara keselurahan, kasus-kasus di dalam antologi ini lumayanlah kalau dilihat dari segi seting karna bisa dengan jelas terpampang realita hidup disurabaya seperti pabrik dan juga gang doly dan beberapa lokasi yang terasa kesan Surabaya belum lagi gaya bicara para tokoh sedikit banyak membangun kesan tempat cerita . tapi untuk misterinya sendiri, seperti saya katakan tadi, hanya ada beberapa yang betul-betul bagus dan lainya merata dan bahkan kurang menarik. Jadi untuk mereka yang ingin tahu sejauh mana S Mara Gd , seorang penulis misteri paling terkenal di jamannya bahkan mungkin sekarang(karna belum banyak penulis yang betul-betul terkenal karna novel misteri belakangan ini) dalam membuat cerita pndek misteri mungkin antologi ini bisa membantu membuka gaya menulis dan bercertia S Mara Gd bagi pembaca.

Senin, 07 Maret 2016

Birth of the Sleuth

"I'm not a detective. I'm a great detective!"

"Great Detective Pikachi ~ Birth of a New Duo"





   Aku akan mencoba membuat sebuah review dari novel misteri . Walaupun  masih pemula dan belum berpengalaman dalam menreview sesuatu dan mungkin referensi dan perpektif saya masih terbatas, I’ll try to make it!

   Untuk beberapa waktu , aku mencoba memikirkan kira-kira novel apa yang bagus sebagai pembuka atau dengan kata lain novel pertama yang saya review . Akhirnya keputusan itu menunjuk kesebuah novel yang menurut saya pantas mendapat tempat sebagai novel perdana untuk saya review yaitu novel perdana dari Sir Arthur Conan Doyle apa lagi kalau bukan “Study in Scarlet ”atau di Indonesia dikenal dengan judul “Penelusuran benang merah”.

  Kenapa novel ini menurut saya layak untuk di review walaupun mungkin terlalu mainstream di kalangan para pecinta misteri , karna ini novel yang memperkenalkan kita ke the Great Detective ever(for me) dan the First consultant detective in history of Fiction. That’s all

  Study in Scarlet adalah novel perdana Doyle Yang di tulis tahun 1886 dan terbitkan tahun 1887 di majalah Beethon Christmas Annual dimana kita diperkenalkan pada tokoh favorit kita Sherlock Holmes dan partner In crimenya  sekaligus pendokumentasi pentualangan mereka Dr.John Watson

  Novel yang ditulis dari sudut pandang Dr.Watson ini di mulai dengan sebuah usaha dari Dr.Watson untuk bisa kembali ke titik ‘normal’ setelah ingatan tentang perang ( dimana dia berpartisipasi sebagai dokter disana ) yang terus berputar dalam pikirannya . dalam usahanya mencari suasana baru sebagai sebuah proses penenangan diri juga penghematan uang, Dr Watson secara luarbiasa di pertemukan dengan yang nantinya menjadi teman sekamarnya yang membuatnya penasaran dengan  sosok aneh tersebut. Bukan karna apa , tapi karna Sherlock mampu dengan tepat mendeduksi Dr.Watson hanya dengan melihatnya sekilas.

  Bermula dari pertemuan yang janggal dan menarik itu , menghatarkan kedua teman baru ini ke petualangan yang bagi Dr.Watson belum pernah di alami sebelumnya , dimana Sherlock berada di tengah pertarungan sengit antara dua detektif Scotland yard (Gregson dan Lestrade) yang ironisnya meminta bantuan Sherlock Holmes untuk memberikan pencerahan mengenai sebuah kasus pembunuhan yang menurut kedua polisi ini begitu aneh dan sulit untuk di cerna.kemudian petualanganlah yang mengantar kedua duo ini dalam kebersamaan memecahkan kasus pembunuhan terselebung yang mareka harus telusuri walaupun sebagian besar Sherlocklah yang merebut spotlight .

Novel ini memberikan kesan yang bagus dimana detektif dan dokter bersama-sama dalam taki-teki misteri dengan background story yang juga sangat menarik. Mungkin para pembaca di zaman ketika novel ini keluar, akan langsung mengait-ngaitkan duo ini dengan karakter ciptaan Edgar Allan Poe C.Aguste Dupin Yang muncul pertama kalinya dalam cerita pendek detektif pertama “The murder in Rou Morgue”(1841) . tapi Doyle membuat pembeda terhadap kedua tokoh yang brilian ini karna Doyle mengunakan referensi sosok nyata yaitu mantan dosennya di universitas Edinburgh Dr.Joshep Bell yang menurut Doyle sendiri memiliki kemampuan deduksi yang luar biasa dalam menyimpulkan penyakit bahkan hanya dengan melihat cepatu dari pasien saja Dr Bell sudah bisa mendeduksinya.

Selain karakter diperkenalkan  dengan cara memancing pembaca untuk mengangumi, cara bercerita Doyle juga harus di kagumi. Karna gaya story-telling Doyle sangat baik dengan Dry – humor dan sentuhan dialog para tokoh yang membuat pembaca terbawa dengan gaya bercerita Doyle ini. Tergambar jelas dari back-story di tengah novel yang seakan –akan entah datang dari mana mendongengkan kisah secara apik dan ternyata menjadi point penting bagi novel ini secara keseluruhan.

Walaupun ini bukan cerita pertama dari Doyle yang saya baca, Novel ini seakan bisa menarik saya untuk mencoba membaca nya lagi karna pengalaman yang diberi oleh karakter dan gaya menulis novel ini sangat menarik dan layak untuk di baca baik para Sherlockian (yang pastinya harus) juga mereka yang baru kenal Sherlock Holmes dan Dr. Watson dari Tv series(Elementary, Sherlock) bahkan yang belum tahu siapa Sherlock untuk  mengenal si tokoh detektif yang tak akan pernah mati bahkan saat di bunuh oleh penulisnya sendiri.